HEADLINE

Proyek Jalan Haliwen-Motaain Terlambat, Waskita Karya Didenda

ATAMBUA, Kilastimor.com-Proyek pengerjaan ruas jalan nasional Mota’ain-Salore-Haliwen, Perbatasan RI-RDTL, yang dilaksanakan PT. Waskita Karya terlambat. Akibat keterlambatan itu, Satker Balai Jalan dan Jembatan Wilayah VIII Denpasar memberikan denda.

Waskita Karya

Waskita Karya

Satker Balai Jalan dan Jembatan Wilayah 8 Denpasar melalui Muhammad Edwin membenarkan hal itu saat dihubungi media, selasa (19/1/2016).
Menurut Edwin, proyek pengerjaan ruas jalan tersebut sepanjang 9,7 kilometer. Realisasi fisik pekerjaan ruas jalan yang dikerjakan PT. Waskita Karya per 31 Desember 2015 baru mencapai 92,5 persen. Sementara terkait informasi terakhir dari lapangan, pekerjaan telah selesai proses pengaspalan belum termasuk beberapa pekerjaan minor lainnya.

“Kondisi terakhir per 31 Desember 2015 fisik proyeknya belum mencapai 100 persen. Harusnya dengan kondisi itu sudah harus di blow up data terbarunya,” ujar Edwin.

Dikatakan bahwa, harusnya kondisi pekerjaan tiap 7 hari terhitung sejak 31 Desember 2015 hingga sekarang sudah harus ada dan dibuatkan juga rinciannya. Dengan adanya keterlambatan pekerjaan itu, maka pihaknya memberlakukan denda sesuai dengan aturan keuangan selama 50 hari kerja dihitung mulai dari 31 Desember 2015 lalu.

Edwin menambahkan, terkait dengan adanya hasil pekerjaan yang dalam kondisi rusak, seperti aspal juga tembok penahan maka itu harus dibongkar dan dikerjakan ulang.

“Paket pekerjaan ruas jalan nasional ini bukan paket pekerjaan biasa, karena ini merupakan program kerja dari RI 1 untuk wilayah perbatasan, baik itu yang di Kalimantan, Papua, dan NTT. Sehingga dalam pengerjaannya tidak bisa main-main karena semua pekerjaan dimonitor oleh pusat,” papar dia.

Masih menurut Edwin, setiap minggu selalu dilaporkan perkembangan pekerjaan menggunakan video tidak hanya foto. Sebab apabila gunakan foto bisa dipotong khusus gambar yang baik-baik saja. “Masa pemeliharaan proyek ruas jalan ini 2 tahun. Sehingga dalam 2 tahun kedepan, jika ada kerusakan maka harus dilakukan perbaikan,” ucap dia.

Lanjur Edwin, nilai kontrak proyek pengerjaan ruas jalan nasional di perbatasan Belu dan Timor Leste mencapai Rp 66 miliar. Diakuinya, polemik antara PT Waskita Karya dengan pihak Subkontrak, dalam pengerjaan ruas jalan nasional yang terjadi selama ini mengganggu penyelesaian pekerjaan. (yan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top