HEADLINE

Penyidik Perlu Berlajar Logika Teknik dalam Kasus yang Menjerat Jessica Kumolo Wongso

Helio Moniz

Oleh: Helio Caetano Moniz, Advokat di Atambua, Timor Barat, NTT

Waktu sekolah di STM Dili (Timor Timur) Jurusan Automotif, guru-guru mengajar, saya masih ingat jelas, apabila kendaraan dengan bahan bakar bensin mogok, penyebabnya ada pada hal pembakaran dalam ruang bakar mesin.

Pembakaran terdiri dari tiga unsur, pengapian, udara, dan bahan bakar minyak. Pada umumnya, yang akan pertama dicari tahu masalahnya adalah pengapian, karena itu yang biasanya paling sering bermasalah. Langkah pertama adalah Lepas busi dan coba start, kalau busi tidak percikkan bunga api, ada 2 kemungkinan, businya sudah rusak atau tidak ada arus listrik. Maka, lankah berikut untuk tahu keduanya dengan copot kepala busi dan dekatkan ke body mesin lalu start.

Kalau tidak ada percikan bunga api, artinya masalahnya bukan ada pada busi, tetapi pada rangkaian arus listrik sebelum sampai pada busi; bisa pada distributor. Jika distributor juga tidak menyala, mundur lagi ke platina (semua masih pakai platina waktu itu).

Demikian mundur dan mundur terus sampai ke coil, lalu kunci kontak, lalu aki, lalu cut out, dan paling terakhir dinamo listrik. Apabila, dari langkah mundur tersebut, ternyata platina bagus, maka yang rusak adalah distributor, karena ia yang terletak antara platina dengan busi. Itulah pola kerja sistematika teknik automotif.

Kita masuk ke kasus Jessica. Wayan Mirna Salihin meninggal karena diduga minum kopi yang tercampur racun Sianida yang sudah dipesan Jessica. Akan tetapi Jessica mengatakan ia tidak mencampurkan Sianida ke dalam cangkir kopi Mirna, CCTV pun tidak memperlihatkan itu, saksi mata pun tidak ada yang mengatakan itu. Maka penyidik harus mundur ke orang yang mengantar kopi pesanan Jessica ke meja.

Jika ia pun tidak tahu, maka mundur lagi ke siapa yang membuat dan mencampur kopi pesanan Jessica. Jika tidak, mundur lagi kepada siapa yang masuk ke ruang dapur tempat pencampuran kopi ketika pencampuran kopi tersebut berlangsung. Jika yang membuat kopi tidak mencampurkan, Jessica juga tidak, maka yang mencampurkannya adalah pegantar kopi.

Jika Jessica atau pengantar maupun pembuat kopi pun tidak, pasti ada orang lain yang masuk ke dalam dapur. Semuanya pasti ada di CCTV. Jika ternyata ada kerja sama antara mereka atau salah satunya dengan Jessica, itu lain persoalan. Minimal bukan Jessica pencampur Sianida, titik.

Lantas, kenapa penyidik mati-matian memaksakan Jessica adalah pencampurnya dengan mengambil ahli analisa ekspresi wajah, ahli psikologi yang tidak pernah menyembuhkan seorang gila pun, malah datang hanya untuk membenarkan suatu kegilaan belaka. Padahal, sudah banyak professor menjelaskan, semua bukti itu, mau dari TKP atau dari Australia sana, tidak ada yang sifatnya langsung, bahwa datang duluan terus Sianida langsung masuk ke dalam cangkir kopi, pesan duluan terus Sianida masuk ke dalam cangkir kopi, bayar duluan terus Sianida langsung masuk ke dalam cangkir kopi, lihat kiri-kanan dan lain-lain terus Sianida langsung masuk ke dalam kopi.

Kesimpulan saya, Jessica korban kepentingan apalagi di negeri ini? Katanya karena ada tuntutan masyarakat. Kalau benar itu, putarkan itu rekaman CCTV kepada masyarakat supaya lihat sendiri. Hukum ya hukum, semua harus terbukti, dan pembuktian bukan logika kegilaan, tetapi logika rasionalitas yang ilmiah.

Kuatlah Jessica. Kita menantikan apa kata pengadilan sebagai benteng kebenaran dan keadilan yang terakhir.***

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top