HEADLINE

135 Anggota Inkai Cabang Belu Ikut Ujian Kenaikan Tingkat

Inkai Kabupaten Belu

ATAMBUA, Kilastimor.com-Sebanyak 135 orang anggota INKAI Cabang Belu mengikuti ujian kenaikan tingkat dan penurunan Kyu di Gor L.A Bone, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, Minggu (1/10).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekada Belu, Petrus Bere selaku Ketua Majelis Sabuk Hitam (MSH) INKAI Cabang Belu dan Ketua Forki Apolinario Da Silva, Sekretaris KKI Simon Riwu, dan Wakil Ketua INKAI cabang Belu Pius Seran. Selain itu, turut hadir Ciprianus Bere selaku Koordinator INKAI Kabupaten Malaka dan para penguji.

Pada sambuatanya, Ketua INKAI Cabang Belu Sekaligus Ketua FORKI Kabupaten Belu, Apolinario mengatakan bahwa ujian kenaikan tingkat merupakan sebuah kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh INKAI. Ujian ini biasanya dilaksanakan enam bulan sekali

Ketua MSH INKAI Cabang Belu, Petrus Bere mengatakan ujian kenaikan tingkat saat ini mengalami penurunan pada latihan fisik. Petrus mengisahkan bahwa pada zamannya, ketahanan fisik benar-benar diuji saat melaksanakan ujian kenaikan tingkat.

Lebih lanjut dikatakannya, olahraga adalah salah satu bagian yang memberikan sumbangsih yang sangat besar pada Kabupaten Belu Baik Dikancah Nasional maupun Internasional. Melalui berbagai cabang olahraga, masyarakat luar dapat mengenal Kabupaten Belu. Karena itu, kepada para peserta yang mengikuti ujian kenaikan tingkat diharapkan agarbterus berlatih dengan keras untuk mengharumkan nama Kabupaten Belu.

Untuk diketahui, sebelum diadakannya ujian kenaikan tingkat ini, INKAI Cabang Belu telah mengadakan GAZUKU atau latihan pemantapan gerakan di lapangan Makodim 1605/Belu, pada Sabtu (30/9). Pada latihan Tersebut, ada enam ranting dari sebelas ranting di Kabupaten Belu yang mengikuti latihan tersebut.

Karate (空 手 道) sendiri adalah sebuah seni bela diri yang berasal dari Jepang. Seni bela diri karate dibawa masuk ke Jepang lewat Okinawa. Seni bela diri ini pertama kali disebut “Tote” yang berarti seperti “Tangan China”.

Waktu karate masuk ke Jepang, nasionalisme Jepang pada saat itu sedang tinggi-tingginya, sehingga Sensei Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote: Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong) agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang. Karate terdiri dari atas dua kanji. Kanji pertama adalah ‘Kara’ 空 dan berarti ‘kosong’ dan yang kedua, ‘te’ 手, berarti ‘tangan’. Jadi secara epistemologi, karate artinya “tangan kosong” 空手 (pinyin: kongshou).

Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang.

Pada Tahun 1963, beberapa mahasiswa Indonesia antara lain: Baud A.D. Adikusumo, Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan, dan Ottoman Noh mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mula-mula memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka namakan Persatuan Olahraga Karate Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian berdatangan ex Mahasiswa Indonesia dari Jepang seperti Setyo Haryono (pendiri Gojukai), Anton Lesiangi, Sabeth Muchsin dan Chairul Taman turut mengembangkan karate di tanah air.

Disamping ex Mahasiswa-mahasiswa tersebut, orang-orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka usaha, ikut pula memberikan warna bagi perkembangan karate di Indonesia. Mereka ini antara lain Matsusaki (Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969), Hayashi (Shitoryu-1971), dan Oyama (Kyokushinkai-1967). (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top