HEADLINE

Gashuku, Sebuah Budaya dalam Dunia Karate yang Masih Dilestarikan

Ujian kenaikan tingkat di GOR Atambua.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Inkai Cabang Belu mengadakan Gashuku di Lapangan Hitam Makodim 1605/Belu, pada Sabtu (30/9). Kegiatan Gashuku yang diikuti oleh 115 orang tersebut bertujuan untuk menyambut ujian kenaikan tingkat yang akan berlangsung pada Minggu (1/10) di Gor L.A. Bone, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu.

Gashuku yang dalam bahasa Jepang berarti belajar dan menginap. Gashuku adalah sebuah kegiatan belajar sambil menginap di satu tempat tertentu. Melalui gashuku ini, peserta diharapkan dapat mengembangkan sifat kejujuran (Gi), keberanian (Yuu) dan sopan santun (Rei), sehingga kemudian akan lahir para karateka yang positif (Seishin) dan memiliki semangat tinggi (Seiki).

Gashuku amat lazim diadakan di Jepang sebagai bagian dari kegiatan belajar mengajar, entah di sekolah atau perguruan tinggi. Tujuannya adalah agar sebuah kegiatan, apakah itu dalam bentuk seminar, bimbingan, atau yang lain dapat dilaksanakan dengan lebih terfokus, konsen, dengan waktu yang lebih panjang. Selain itu, untuk menjalin keakraban di antara para peserta. Gashuku pertama diadakan di Hakone. Hakone adalah salah satu pusat wisata di shizuoka, propinsi sebelah Ibu kota Tokyo.

Dalam dunia FORKI, Gashuku dimaknai sebagai latihan bersama untuk memperbaiki dan menyamakan gerakan serta menyeragamkan tehnik yang sudah diajarkan bagi seluruh karateka. Gashuku merupakan acara tahunan BKC yang bertujuan untuk melatih fisik, dan mental para karateka. Dalam Gashuku, para karateka dituntut untuk mandiri dan percaya diri.

Selain itu, melalui Gashuku, para karateka dapat saling bertukat informasi mengenai even olahraga karate di daerah maupun di luar daerah.

Gashuku yang diadakan di Lapangan Hitam Makodim 1605/Belu dilakukan sebagai salah satu syarat ujian kenaikan tingkat dan penurunan Kyu yang akan dilaksanakan di Gor L.A. Bone, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, pada Minggu (1/10).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Inkai Cabang Belu sekaligus ketua Forki Kabupaten Belu, Apolinario da Silva dan Wakil Ketua Inkai Cabang Belu Bapak Pius Seran. Selain itu, hadir pula para pengurus Inkai Cabang Belu dan para Majelis Sabuk Hitam (MSH) serta Pelatih Ranting Inkai Cabang Belu.

Dalam Gashuku kali ini diikuti oleh enam ranting dari sebelas ranting yang ada di Inkai Cabang Belu. Keenam ranting tersebut adalah Ranting Kodim 1605/Belu, Ranting Yonif RK 744/SYB, Ranting SMPK Donbosko, Ranting Silawan, Ranting Fatukmetan, dan Ranting Haliulun.

Vinsensius Asa, salah seorang karateka asal Ranting Fatukmetan menuturkan melalui kegiatan olahraga karate ini, anak-anak kami bisa mengisi waktu luangnya dengan melakukan kegiatan yang positif, dibandingkan hanya melakukan kegiatan dalam rumah, seperti bermain game, media sosial dan lainnya. Selain itu, dengan mengikuti latihan Inkai, dapat menjaga kesehatan dan stamina anak-anak melalui olahraga.

“Untuk mengejar prestasi itu memang tergantung dari keinginan dan kemampuan serta support pelatih maupun orang tua. Jika semua itu ada, maka prestasi itu bisa diraih dengan sendirinya,” tuturnya.

Pelatih ranting Kodim 1605/Belu Simpai G. Yohanis menjelaskan, Gashuku sendiri merupakan salah satu persyaratan mutlak yang harus diikuti oleh karateka sebelum naik tingkat. “Saya sangat memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pengurus Inkai Belu, sebab kegiatan boleh terlaksana itu rasa karena rasa tanggung jawabnya terhadap organisasi dan perkembangan generasi muda,” ujarnya.

Menurut Simpai Yohanis, kegiatan ini membantu Pemerintah Kabupaten Belu dalam mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri generasi muda Belu saat ini. Selain itu, melalui kegiatan ini juga, dapat mecetak generasi muda yang memiliki prestasi untuk mengharumkan nama Belu tidak hanya di kancah lokal, tapi juga di mata Dunia.

Simpai Yohanis berharap agar para pengurus Inkai Cabang Belu agar dapat membulatkan tekad dalam mencetak generasi muda yang berkualitas sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing.

“Kita harus mampu memberikan prestasi yang bagus. Dengan itu, kita menunjukkan rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Kita memberikan media kepada masyarakat yang menginginkan anak-anaknya berlatih karate, karena karate itu prinsipnya Bushido, yakni sikap berani, jujur dan tanggung jawab. Itu sikap luar biasa! Kalau kita memiliki karakter seperti itu, dimana pun berada pasti akan berhasil,” tegasnya. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top