HEADLINE

Kain Tenun Ikat Raimanuk ini Harganya Rp 35 Juta

Inilah kain tenun seharga Rp 35 juta

ATAMBUA, Kilastimor.com-Bila kita mendengar kain tenun dengan harga enam juta Rupiah adalah hal yang biasa. Namun, bagaimana jika kita mendengar harga kain tenun ikat dengan harga 35 juta rupiah? Pasti akan membuat kita semua tercengang. Lalu, apa yang membuat harganya menjadi begitu fantastis?

Sore itu, Senin (23/10/2017), saya mendatangi sebuah stand pameran kain tenun ikat Kecamatan Raimanuk dalam acara Atambua Culture Fashion Festival yang digelar di Gor L. A. Bone, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu.

Dalam acara ini, 12 kecamatan yang ada di Kabupaten Belu ikut ambil bagian dalam memamerkan kain tenun ikat hasil karya kelompok tenun ikat yang ada di kecamatannya masing-masing. Dari 12 kecamatan itu, stand pameran tenun ikat Kecamatan Raimanuk menampilkan beberapa hasil tenun ikat karya warganya dengan kisaran harga di atas satu juta Rupiah.

Dari semua kain ikat tersebut, ada satu kain ikat dari Suku Mane Hitus Buik Tuan, Dusun Wabace, Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk yang harganya mencapai 35 juta Rupiah.

Kain terbuat dari benang yang terbuat dari kapas. Warna-warna pada kain ini pun dibuat dari pewarna alami. Motif pada kain ini pun terbilang sangat kaya akan motif dan makna. Ada gambar cicak pada kain tersebut.

Cicak menurut kepercayaan orang Belu adalah sebagai perwujudan kebenaran sebagaimana diyakini. Biasanya, dalam mengambil keputusan-keputusan penting pada acara adat, orang selalu memperhatikan suara cicak. Bila suara cicak (teki lian) berasal dari belakang, maka itu sama artinya dengan arwah nenek moyang mendukung kita dalam keputusan tersebut. Namun jika bunyi teki lian berasal dari depan kita, maka keputusan yang kita buat belum tepat atau keputusan kita akan membawa petaka pada kita. Karena itu, cicak diartikan sebagai perwujudan arwah leluhur.

Selain ada motif cicak, ada pula motif ikan dan bunga pada kain tenun ikat tersebut. ikan dan bunga mengartikan kesuburan dan kemakmuran masyarakat.

Ternyata yang membuat kain tersebut menjadi mahal karena umurnya yang sudah melebihi 200 tahun. Yosfiah Hoar, salah seorang anggota Suku Mane Hitus Buik Tuan mengatakan bahwa mereka tidak tahu persis, kapan waktu pembuatannya. Mereka hanya sering diceritakan oleh orang tua secara lisan bahwa kain tersebut sudah berumur ratusan tahun lamanya.

“Kami juga tidak tahu. Kami hanya dapat cerita dari orang tua dulu dong saja. Katanya kain ini sudah berumur lebih dari dua ratus tahun yang lalu,” tuturnya.

Pada kain tersebut terdapat motif berbentuk tulisan Kristina Hoar Luan dan Maoeanoe. Masyarakat Suku Mane Hitus Buik Tuan meyakini bahwa Kristina Hoar Luan adalah si penenun kain tersebut, sedangkan Maoeanoe adalah nama suaminya.

Kain ini biasanya diturunkan dari rumah adat saat anggota suku melakukan “Sau Batar” atau panen jagung. Mereka percaya kalau dengan menurunkan kain tersebut, maka mereka akan mendapat kesuburan pada buminya dan berkat yang berlimpah dalam hidupnya. Inilah yang alasan mengapa kain tersebut dihargai cukup mahal hingga mencapai 35 juta Rupiah. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top