HEADLINE

Winston Rondo akan Luncurkan Bukunya Tentang Masyarakat Perbatasan

Winston Rondo

KUPANG, Kilastimor.com-Sebagai bagian dari kepeduliannya terhadap kehidupan masyarakat Perbatasan, maka Anggota Komisi V DPRD Provinsi NTT, Winston Rondo akan meluncurkan sebuah buku yang berjudul “Merah Putih Tergadai di Perbatasan”. 

Bila tak ada aral, buku ini akan dilaunching dan dibedah pada 28 Oktober 2017 mendatang. Hal ini disampaikan Winston, melalui press release Kamis (19/10).

Dalam release tersebut, Winston mengungkapkan, buku tersebut diangkat dari pengalaman empiriknya selama masih berkecimpung di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dalam buku tersebut, dirinya  mengajak pembaca sekalian untuk melihat lebih dalam tentang kehidupan masyarakat di perbatasan.

Dikatakan, dirinya bukan saja sekedar wakil rakyat, yang menghabiskan waktu untuk menyelesaikan paripurna dan sidang resmi lain di DPRD NTT. Namun semangatnya  yang terus menggelora, membuat Politisi  sukses menggugah semua orang lewat bukunya. Menurutnya, buku ini merupakan Maha karya yang digali dari pengalaman empirik selama menjadi aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat.

Dira menjelaskan, alasan kenapa dirinya mengangkat judul tersebut dalam bukunya. Menurutnya, masalah perbatasan, menjadi isu yang sangat seksi, karena memendam banyak persoalan krusial tentang lemahnya kehidupan sosial ekonomi warga hingga lunturnya rasa nasionalisme mereka terhadap negaranya sendiri. Dalam bukunya ini, berangkat dari pengalaman empirik serta beberapa kajian dari hasil diskusi semenjak menjadi aktivis di NGO, dirinya seolah-olah memantik perhatian semua orang terutama pemerintah, untuk serius memperhatikan masalah tersebut. Keprihatinannya lebih utama kepada keberadaan perbatasan sebagai teras NKRI, hingga lunturnya kecintaan warga terhadap tanah air dari waktu ke waktu akibat nasib mereka yang tidak menentu.

Sejatinya, menurut Winston, persoalan sosial ekonomi dan nasionalisme adalah persoalan anak bangsa, bukan persoalan orang per orang atau persoalan para pejabat saja. Artinya, agar kesadaran ini bukan sekadar mitos, semua stakeholder, semua warga, dan semua lembaga harus terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya.  Hadirnya buku “Merah Putih Tergadai di Perbatasan”, ini diharapkan dapat mendorong semangat warga bangsa untuk membangkitkan asa kaum muda Indonesia.

Selain itu, menurutnya, tujuan  dari buku ini adalah, lebih kepada menggali kekayaan intelektual dan wawasan kebangsaan kaum muda, sesuai dengan bidang karya dan ilmu yang mereka dalami. Sehingg, buku ini akan memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa serta membagikan dinamika kekayaan wawasan, perjuangan, dan idealism kaum muda dalam mengisi perjuangan para founding Fathers bangsa.

Dijelaskan juga, dalam buku ini, dibahas juga masalah pangan di perbatasan, tentang celengan kekayaan rakyat dan mengakarkan rupiah. Ada pula, justifikasi tentang perbatasan akan menjadi pilar ekonomi sampai kenapa merah putih tergadai. Menurut Winston, pada bagian ini akan diterangkan secara rinci mulai dari sisi ekonomi, mindset, sampai nasionalisme. Juga, pada bagian yang lain, dirinya secara gamblang meneropong peristiwa yang terjadi di sudut negeri, tentang meredupnya nasionalisme dan bagaimana menumbuhkannya ?

“Jadi, dalam buku ini, saya akan mengajak pembaca untuk menikmati permainan diksi yang elok untuk menggambarkan betapa masyarakat perbatasan seperti bunga dadap. Sungguh merah tetapi berbau tak sedap. Itulah gambaran Negeri Indonesia, diasosiasikan seperti firdaus, sangat mempesona namun tidak semua orang menikmatinya. Masyarakat di perbatasan khususnya di NTT, disebut memelihara sapi namun bukan miliknya. Sehingga, penggambaran yang komprehensif terhadap keberadaan warga perbatasan begitu humanis dan bakal memantik siapa saja yang melahap buku ini nantinya, jelas Winston.

Ditambahkan, ada satu masalah dalam hidup bernergara di tataran praktis. Dikatakan, jika pusaka digadaikan, maka tak lagi untuk sementara waktu  tak memiliki kekayaaan yang paling berharga. Dimana, yang terjadi sekarang ini, sebagian konten tentang nasionalisme hanyalah rangkaian kata-kata bohong. Dengan kata lain, anak muda mengatakan bahwa nasionalisme itu gombal! Misalnya, katanya kita telah merdeka tetapi banyak di antara masyarakat yang masih merana.

Dirinya membeberkan, sikap apatis yang menjadi embrio lunturnya nasionalisme, menjadi tanggung jawab  semua. Dirinya memberikan contoh,  di daerah tertentu yang kaya minyak, minyaknya mengalir deras tetapi sebagian daerahnya masih gelap. Pemikiran-pemikiran seperti ini menurutnya, masih menggelayut di benak kaum muda.

Lebih lanjut dijelaskan juga bahwa, kasus-kasus prosedural yang sebetulnya bisa ditangani secara sederhana tetapi dipersulit, membuat kaum muda semakin bingung dengan negeri ini. Secara sederhana disebut, betapa berbelitnya membuat proposal kredit di daerah terpencil. Bahkan lebih menukik lagi, persoalan nasionalisme bukan sekadar pidato. Keprihatinan atau masalah sakaw karena narkoba tak sebatas pidato tetapi ini soal action. Nasionalisme bukan sekadar soal simbol-simbol Negara tetapi menyangkut kelangsungan generasi muda mendatang.

Namun demikian, menurutnya, ada tepisan bahwa kaum muda bukan tipis nasionalisme sebab generasi muda itu melek Teknologi Informasi (IT). Dengan caranya, mereka ingin mempertahankan kecintaan mereka kepada tanah air. Dan, masih ada banyak lagi contoh nasionalisme di buku ini yang disumbangkan kaum muda, bukan hanya soal pesimisme saja.

Hal yang lebih penting dari buku ini, menurut Winston adalah bagaimana menumbuhkan kembali nasionalisme tersebut. Utamanya, di bidang KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) mesti dipotong dalam satu genarasi. Itulah penyakit yang sejak reformasi sudah diketahui tetapi tidak gampang dibasmi. Demi nasionalisme berjalan on the track, kita mengikuti arahan reformasi. Solusi lainnya juga dibukukan di bagian terakhir buku ini.

Pada bagian terakhir dari buku tersebut, WInston berharap agar gelora gagasan anak muda ini dikelola dengan baik oleh pemangku yang berkepentingan, maka niscaya Indonesia bisa menjadi negara terhormat. Menurutnya, sekurang-kurangnya tiga prasyarat Indonesia bisa menjadi negara terhormat. Bukankah kita punya Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia dan prasyarat lainnya? Bagaimana pemimpin menjadikan modal dasar untuk menjadi Indonesia jaya? Buku ini akan mengupas hal-hal di seputar nasionalisme agar generasi muda lebih sadar akan perannya di di zaman yang kian maju ini.  

Intinya, untuk menumbuhkan kecintaan pada bumi pertiwi menjadi suatu kebutuhan, perlulah kita senantiasa membangun kecintaan kepada bangsa melalui rejuvenasi dan revitalisasi tanpa rasa curiga untuk melakukan perselingkuhan. Kenapa? Sebab, nasionalism is all about love! Cinta itu tak lekang oleh zaman, baik di zaman edan maupun di zaman lebih dari edan sekali pun.

Untuk diketahui bahwa, buku tersebut, diterbitkan PT Elex Media, Kompas Gramedia Jakarta. (qrs) 

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top