HEADLINE

Ini Alasan Rm. Yosef Gugat Tanah Paroki Bolan yang Dikuasai

Rm. Yosef Meak Pr

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kasus gugatan Pastor Paroki Bolan, Rm. Yosef Meak Pr menggugat Yoseph Ama Berek Seran dan dua orang umat Paroki Bolan, Maria Theresia Dahu Berek dan Yohanes Bisik Lekik. Gugatan yang dilakukan atas tanah sengketa milik Paroki Bolan tersebut kini telah memasuki persidangan tahap kedua di Pengadilan Negeri (PN) Atambua, pada Selasa (14/11/2017).

Persidangan kedua yang kembali digelar PN Atambua tersebut mengagendakan penyampaikan eksepsi dan jawaban atas gugatan dari para tergugat.

Salah satu penggugat, Rm. Paulus Nahak I ketika ditemui awak media di kantornya, Rabu (15/11/2017) mengungkapkan alasan mereka sampai menggugat Yoseph beserta dua warga lainnya yang juga adalah umat Paroki Bolan.

Dijelaskannya, gugat-menggugat itu berawal ketika Yoseph Berek Seran hendak mendirikan bangunan permanen pada tanah yang masuk dalam wilayah kepemilikan Paroki Bolan. Menurut Rm. Paulus, tanah yang menjadi lokasi pembangunan rumah tersebut masuk dalam areal tanah yang diserahkan oleh sembilan sesepuh adat atau temukung kepada Gereja Katolik Bolan pada 63 tahun lalu atau tepatnya tanggal 15 Maret 1954.

Penyerahan tanah yang diperkirakan seluas lima hektare itu, lanjutnya, diterima oleh Pater Simon Schapper, SVD yang saat itu bertugas melayani umat di stasi Bolan (sekarang Paroki Bolan).

“Saat itu, mereka menyerahkan waktu itu belum kenal istilah hibah, tapi sebetulnya hibah yang tidak dapat ditarik kembali. Penyerahan menandakan ketulusan dan keikhlasan mereka tanpa menuntutu sesuatu ganti rugi atau apapun.
Waktu itu Bolan belum berstatus paroki. Hanya lingkungan, tempat pelayanan dari paroki Betun,” papar Romo Paulus.

Dijelaskannya, sejak penyerahan sampai saat ini tidak ada satupun pihak yang menggugat. Masalah, lanjutnya, baru muncul ketika di tahun 2016 lalu tepatnya 24 Maret 2016, Yoseph Bere Seran (tergugat) menurunkan material batu untuk mendirikan bangunan.

Melihat hal ini, Pastor Paroki Romo Yosef Meak melalui anggota dewan keuangan paroki memberikan teguran tapi tidak digubris. Tambahnya itu, pada Bulan Juli 2016, saat tiang bangunan akan dicor, pihak gereja Paroki Bolan memberikan somasi tertulis dan peringatan agar Yoseph menghentikan pekerjaan. Somasi itu gak didengarkan oleh Yosep.

“Akhirnya, sampai September, kita ajukan gugatan perdata. Sebenarnya yang menggugat itu Uskup Atambua sebagai pemilik hak atas tanah. Tapi tidak mungkin, maka dia mendelegasikan atau memberi rekomendasikan mempercayakan urusan ini kepada kami lima orang,” ungkapnya.

Lima orang yang mendapat delegasi tugas untuk mengambil langkah hukum tersebut, kata Romo Paulus antara lain, Romo Hironimus Masu selaku Ketua Panitia Aset Keuskupan Atambua, Romo Paulus Nahak I selaku Wakil Ketua Panitia Aset Keuskupan Atambua, Romo Yosef Meak selaku Pastor Paroki St. Fransiskus Xaverius Bolan, Gregorius Boko selaku Ketua Dewan Pastoral Paroki Bolan dan Karlus Seran, Ketua Dewan Keuangan Paroki Bolan.

“Upaya hukum dimaksud adalah pendekatan kita dengan tergugat waktu itu tapi tidak digubris. Maka kita melakukan gugatan ke pengadilan dan untuk gugatan itu kita dilengkapi dengan surat kuasa dari uskup,” jelasnya.

Mengenai langkah mediasi atau negosiasi yang dilakukan sebelum gugatan ke pengadilan, Romo Paulus menegaskan bahwa itu dilakukan melalui cara teguran dan somasi.

“Kalau ditegur, Anda sebagai pribadi itu datang ke gereja. Nah ini tidak datang. Kalau toh datang bicaranya ngawur dan mengancam. Proses pembangunan itu sudah ditegur dari awal,” tegasnya.

Menurut Romo Paulus, bukti sertifikat yang dimiliki tergugat perlu ditunjukkan. Hal ini karena sejak awal, tergugat hanya mengatakan memiliki bukti kepemilikan, tapi tidak pernah menunjukkan bukti serfikat tersebut. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top