HEADLINE

Sekda Belu akan Tutup PSHT dan IKS

Rapat Forkopimda Belu dan OPD terkait penanganan konflik sosial.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Sekda Belu, Petrus Bere menegaskan akan menutup PSHT dan IKS, bila kedua organisasi ini terus menimbulkan kekacauan. Hal ini disampaikan pada rapat tim terpadu penanganan konflik sosial tingkat Kabupaten Belu di Aula lantai I Kantor Bupati Belu, pada Senin (6/11/2017).

Rapat ini dibuat untuk menyikapi tiga kasus pembunuhan dan penganiayaan yang terjadi minggu lalu di Lakafehan, Sesekoe, dan Haliwen, Kabupaten Belu.

Tiga kasus ini terjadi karena beberapa hal pemicu. Pertama, adanya pesta sambut baru, diikuti dengan pesta miras sebagai pemicu konflik.
Kedua, oknum anggota organisasi bela diri mengundang atau memicu konflik antar dua organisasi bela diri PSHT Vs Kera Sakti.
Ketiga, situasi kabupaten Belu sebagai wilayah pasca konflik Timor Timur, masih meninggalkan bekas-bekas sentimen kelompok. Keempat, ketidakpuasan masyarakat atas pelayanan publik pemerintah sebagai pemicu rawan konflik.

Melihat berbagai konflik yang terjadi akhir-akhir ini, masyarakat bertanya terkait dengan konflik itu sendiri.

Sekda Belu, Petrus Bere menjelaskan, konflik sosial adalah proses sosial dimana satu pihak ingin menjatuhkan pihak lain. Ada dua macam konflik yaitu konflik vertikal dan konflik horisontal. Konflik horisontal adalah konflik yang terjadi antara kelompok-kelompok yang sama derajat. Sedangkan konflik vertikal adalah konflik sosial anatara kelompok yang berbeda derajat seperti masyarakat dengan pemerintah dan lain sebagainya.

Melihat berbagai konflik yang terjadi akhir-akhir ini, katanya, Pemda Belu bersama Forkompinda plus duduk berkumpul untuk membentuk satgas penanganan konflik sosial. Tugas pokok dari satgas ini adalah mencegah, menghentikan dan memulihkan konflik tersebut.

Petrus Bere memaparkan berbagai konflik yang terjadi akhir-akhir ini. Salah satunya ketika ada pesta, terjadi juga pesta miras yang mengakibatkan perkelahian dimana berujung pada kematian. “Pesta sambut baru yang seharusnya merupakan ungkapan kebahagiaan ditutup dengan kedukaan. Hal ini yang tidak kita inginkan”, ujarnya.

Selain itu, ada pula beberapa organisasi yang di Timor Leste sudah dilarang keras oleh pemerintah, tapi di Belu, organisasi itu masih ada. Karena itu, Petrus Bere mengatakan pemerintah akan bersikap terkait hal tersebut, demi tetap terjaganya keamanan dan ketertiban di Kabupaten Belu.

Petrus menegaskan Kabupaten Belu sebagai wilayah perbatasan pernah mengalami dampak dari konflik Timor Timur Tahun 1999. Kejadian tersebut diharapkan untuk tidak terjadi lagi disaat sekarang ini.

Petrus menuturkan, memang ada warga dari Timor Timur yang datang ke Kabupaten Belu pasca konflik tersebut karena adanya hubungan kedekatan budaya dan sejarah nenek moyang. Namun, satu hal yang membuat para warga tersebut datang ke Belu karena wujud persaudaraan.

Karena itu, mereka tidak ingin pergi ke daerah lain. Akan tetapi, karena keterbatasan wilayah dan lain sebagainya menjadi sebuah pemicu konflik. Karena itu, Petrus meminta untuk pemerintah mencari solusi agar semua warga tetap hidup bersaudara di Kabupaten Belu.

Menanggapi berbagai kasus ini, Sekda Belu membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Konflik Sosial Tingkat Kabupaten Belu. Selain itu, Petrus Bere meminta kepada Satgas untuk mempertemukan para pelatih dari PSHT dan IKS untuk melakukan sumpah adat untuk tidak lagi melakukan kerusuhan. “Kalau keterlaluan sampai kebablasan, tutup aja, dari pada buat kerusuhan,” Tegas Petrus Bere. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top