HEADLINE

Sengketa Tanah Paroki Bolan, Yoseph: Saya Tidak Rebut Tanah Gereja

Jumpa pers Yosep Ama Bere bersama pengacaranya.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Yoseph Ama Berek Seran yang juga anggota DPRD Malaka mengatakan, dirinya tidak merebut tanah gereja. Rumah milik pribadi dibangun di tanah miliknya yang sudah bersertifikat. Hal ini diungkapkannya kepada wartawan usia mengikuti sidang dengan agenda penyampaikan eksepsi dan jawaban di Pengadilan Negeri (PN) Atambua, Selasa (14/11/2017).

Sebagai tergugat, Yoseph menjelaskan bahwa pihaknya siap menghadapi proses persidangan. Dirinya juga akan menunjukan bukti kepemilikan atas lahan yang menjadi obyek sengketa saat ini.

Dia juga ingin mengklarifikasi informasi yang beredar bahwa dirinya ingin merebut semua lahan yang menjadi tempat gedung gereja dan pastoran Paroki Bolan saat ini. Yosep menuturkan bahwa opini yang beredar di umat Paroki Bolan saat ini mengatakan bahwa dirinya berupaya untuk menutup gedung gereja yang digunakan sebagai tempat beribadat Paroki Bolan.

“Itu tidak benar. Bayangkan, Gereja saja tidak berani membongkar bangunan saya, apalagi saya yang juga adalah umat Paroki Bolan, sangat tidak mungkin untuk merebut tanah gereja”, tegasnya.

Yoseph hanya mempersoalkan tanah miliknya yang berukuran 23 meter x 47 meter persegi. Di atas tanah yang memiliki sertifikat namanya tersebut, ada bangunan rumahnya.

“Tanah inilah yang saat ini menjadi sengketa. Tidak ada hubungan denga tanah gereja seluruhnya,” tuturnya.

Yoseph yang saat itu didampingi kuasa hukumnya, Silvester Nahak mengatakan, tanah yang kini menjadi lokasi Paroki Bolan yang dipagar keliling menggunakan pagar hidup berupa pohon reo. Pagar hidup itu sudah ada sejak dahulu dan tidak berubah bentuknya.

Dijelaskan, tanah yang saat ini ditempati gereja adalah tanah milik Suku Lalor yang secara ikhlas diserahkan kepada gereja untuk misi pelayanan. Sedangkan tanah miliknya berada jauh dari lokasi tanah milik Paroki Bolan.

Menurut kuasa Hukum Silvester Nahak bahwa kelima penggugat tidak memiliki surat kuasa dari Uskup Atambua. “Bila ingin menggugat sampai ke Pengadilan, maka para penggugat harus memiliki surat kuasa dari Uskup Atambua”, ujarnya.

Selain itu, kurangnya pihak penggugat, seharusnya tidak jika ingin menggugat, maka tidak hanya dirinya yang digugat. Masih ada pihak lain yang juga harus ikut digugat karena memiliki sertifikat tanah di area yang sama.

Lebih lanjut dikatakan bahwa batas-batas tanah yang disampaikan pihak penggugat tidak sesuai denga fakta di lapangan. Hal ini terbukti dengan sudah beberapa kali pihak dari Dinas Pertanahan Kabupaten Malaka datang dan mengukur ulang lokasi. Hasilnya, tanah milik Yoseph berada di luar tanah milik gereja.

Yosep menuturkan bahwa pihaknya bersama beberapa orang tua telah beberapa kali mendatangi Pastor Paroki untuk mencari solusi. Akan tetapi, dirinya diminta untuk membongkar bangunannya barulah pihak Paroki Bolan mau duduk bersama untuk mencari jalan keluarnya. Baginya, itu bukan sebuah jalan keluar yang baik.

“Kalau tidak punya niat baik, saya tidak akan bersama orang-orang tua pergi bertemu pastor paroki sebanyak enam kali untuk mencari solusi. Namun mereka meminta saya untuk membongkar bangunannya, barulah mereka mau duduk bersama kami untuk mencari jalan keluar. Itu bukan jalan keluar yang baik,” tuturnya.

Yoseph saat ini pasrah dengan putusan yang akan diambil para hakim. Ia berjanji bila kalah dalam pengadilan, maka dia rela menyerahkan bangunannya untuk dijadikan asrama atau tempat penginapan bagi Paroki Bolan.

“Kalau saya kalah di Pengadilan, saya akan relakan bangunan saya untuk gereja jadikan penginapan atau asrama untuk kepentingan banyak orang.” Demikian tegasnya. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top