HEADLINE

Ribuan Warga Ikut Misa Syukur HUT Bupati Malaka

Misa syukur HUT Bupati Malaka di Haitimuk.

BETUN, Kilastimor.com-Keluarga Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran menggelar misa syukur HUT-nya ke-60, dan syukuran wisuda Donisius Cristian Bria Seran dari Universitas Brawijaya Malang.

Pada Misa Syukur tersebut dihadiri 18 pastor yang memimpin perayaan ekaristi dan ribuan masyarakat Malaka di rumah jabatan bupati, di Haitimuk, Selasa (26/12).

Disamping masyarakat Malaka, hadir pula beberapa anggota DPRD Provinsi, Kabupaten Malaka dan tamu undangan lainya, dari Sumba dan Jakarta.

Dalam sambutannya, Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran mengatakan, pihaknya bersama keluarga beriterimakasih kepada undangan dan masyarakat yang sudah hadir di misa syukur ulang tahunnya ke-60 dan syukuran anaknya, Umbu yang telah menyelesaikan studi kedokterannya.

“Saya senang sekali, banggga dan bersyukur karena bapak ibu sudah hadir di misa syukur ulang tahun saya yang ke 60. Ini luar biasa,” ucapnya.

Dikatakan, dirinya bersyukur karena putranya sudah menjadi dokter dan menjadi pewaris dirinya. Jelas ini merupakan suatu kado istimewa diulang tahun ini. “Salah satu anak yang sudah berhasil menjadi dokter. Tanggung jawab saya dan ibu, sudahbberhasil menjadi Umbu sebagai pewaris saya menjadi dokter,” tambahnya.

Selain itu, sebagai rasa syukur kepada orang tua yang membesarkan hingga mejadi orang nomor 1 di Malaka, dr. Stef dengan dengan rasa banga dan terharu mengucapkan rasa terimakasinya kepada kedua orang tuanya, “34 tahun saya melihat dan merasakan kasih sayang seorang bapak, terimakasih untuk bapak dan mama yang menjadikan saya dokter.
Terima kasih untuk sudara-saudari saya, istri yang sangat setia dan sabar mendampingi saya dan anak-anak saya,” ucapnya dengan rasa bangga.

Sementara itu, dr. Stef menegaskan kepada Umbu yang baru menyelesaikan studi dokteranya di Universitas Brawijaya bahwa jadi seorang dokter membantu orang yang susah, menjadi tanggung jawab besar. Sekolah di kedokteran itu, bekerjaanya ada empat tugas utamanya yaitu, liburannya adalah belajar, kesenangannya adalah belajar, kesulitanya adalah belajar, kesusahannya adalah belajar dan dalam satu hari harus belajar selama empat jam.

Dr. Stef sedikit mengisakan bagaimana ia menjadi dokter untuk masyarakat dan sebagai motivasi kepada anak-anaknya.
“Bapak jadi dokter karena campur tangan Tuhan, karna keluarga besar, dari orang susah, kersulitan di kuliah, kadang uang tidak ada bapak jalan kaki ke kampus, terkadang naik mobil. Kalau saat ujian dan jika ditagi kondektur hanya kasih tunjuk bulpen sebagai tanda bahwa mahasiswa karena uang tidak ada, makan di warung pojok yang bayarannya mura bisa diambil sendiri, terkadang makan tempe lebih tapi saat banyar bilang sama Mbanya hanya satu, kalau bilang lebih uang tidak cukup, tapi setelah selesai jadi dokter dan bayar kembali 10 kali lipat untuk melunasi utang-utang yang selama ini. Mbanya jadi kaget katanya, mas ko bayarnya lebih, itu bayar utang yang selama ini Mba,” Ucapnya mengenang masa-masa kuliah disambut tepuk tangan ria.

Untuk memacu meningkatnya tenaga kedoteran di NTT paparnya, dirinya menghimbaukan kepada masyarakat kalau anak harus salah satu sekolah di kesehatan. Kalo anak tidak di kesehatan anak mantu harus jadi tenaga kesehatan jika tidak cucunya harus kesehatan. Karena di NTT masih kurang tenaga kedoteran jadi sebagai pemacunya harus seperti itu.

Ia menambahkan, di Malaka ini, setiap harinya dia menerima pelamar dokter yang mau kerja di Malaka dari seluruh penjuru Indonesia. (pisto)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top