HEADLINE

Sidang PK Lau Fabianus dan Yeswelda Mali Dilanjutkan. Kejari Atambua: Tidak ada Novum Baru

Sidang PK di PN Tipikor Kupang.

KUPANG, Kilastimor.com-Sidang Peninjauan Kembali atas putusan Mahkamah Agung RI No: 2162K/Pid.Sus/2013 Tertanggal 19 Februari 2014 kembali digelar Kamis (7/12/2017) di Pengadilan Tipikor Kupang.

Sidang lanjutan ini dipimpin oleh Ketua Majelis Fransiska Paula Nino, SH, MH dibantu oleh hakim ad hoc Tipikor Kupang Ali Muhtarom, SH dan Gustap Marpauang SH dengan agenda mendengar jawaban Termohon atas memori PK Pemohon yang telah dibacakan sidang sebelumnya dan peneriksaan alat bukti.

Pantauan media ini, sidang dimulai tepat pukul 13.11 Wita ini berlangsung cukup cepat karena jawaban dari termohon dalam hal ini Kejari Atambua yang dihadiri Dany Agusta SH, dianggap terbaca oleh pemohon PK.

Dalam jawaban termohon pada intinya tidak sependapat dengan keseluruhan dalil-dalil yang diajukan oleh para pemohon PK di dalam memori PK dengan beberapa dasar pertimbangan, diantaranya adalah bahwa para pemohon PK tidak secara jelas dan tegas menunjukan letak pertentangan dalam putusan pengadilan Negeri Kupang Nomor 06/Pid.Sus/2013/PN.Kpg tertanggal 24 Juni 2013 jo. Putusan Pengadilan Tinggi Kupang Nomor 11/Pid.Sus/2013/PTK tanggal 09 September 2013 jo. Putusan Mahkamah Agung RI Nomor: 2162K/Pid.Sus/2013 tertanggal 19 Februari 2014 terkait perkara Tipikor atas nama para pemohon PK dengan putusan Pengadilan Negeri Atambua nomor 47/Pid.B/2011/PN.Atb tertanggal 24 November 2011 dan putusan MA RI Nomor: 181K/PID.Sus/2012 tertanggal10 juli 2014 terkait perkara tipikor atas nama Wilfrid Atok.

Lanjutan dari itu termohon menyimpulkan bahwa dalam memori PK tidak ada novum yang diajukan dan tidak ada kekhilafan atau kekeliruan hakim yang dinyatakan oleh para pemohon PK, sehingga memohon kepada Majelis Hakim Mahkamah Agung RI menetapkan putusan Mahkamah Agung RI No. 2162K/Pid.Sus/2013 tertanggal 19 Februari 2014 tetap berlaku.

Terpisah dari itu dr. Lau Fabianus yang ditemui media mengatakan, dirinya telah berjuang habis-habisan untuk keadilan dan dirinya mengharapkan agar majelis hakim pada pengadilan pertama maupun majelis Hakim di MA bisa mencermati isi putusan yang berbeda antara putusan yang satu dengan putusan yang lain.

Fabi Lau sapaan karibnya memaparkan bagaimana mungkin ada putusan yang beda dalam satu tindakan hukum yang sama padahal ahli BPK sudah pernah mengatakan bahwa kerugian keuangan negara yang ada, merupakan hak dari rekanan karena tidak sampai dari 10 persen dari total uang yang ada.

Dalam putusan saudara Frid katanya, dinyatakan tidak terbukti unsur kerugian negara sedangkan pada perkara pihaknya dinyatakan terbukti ada kerugian negara.

Karenanya Fabi Lau memohon agar MA bisa mencermati dan mempertimbangkannya.
“Semua kita serahkan kepada Tuhan. Ini usaha kami sendiri tanpa didampingi kuasa hukum, kami berjuang karena keadilan adalah milik kita semua,” bilangnya.

Terpisah, Yeswelda Mali yang ditemui setelah menandatangani berita acara persidangan mengatakan pihaknya menunggu saja hasil dari MA seperti apa. Satu harapan agar keadilan bisa diperolah dan dirasakan. “Kita berdoa saja karena setelah menandatangani berita acara semua berkas akan dikirim ke MA dan kita hanya mendengar hasil putusan MA saja sebab tidak ada lagi persidangan di sini. (dinho)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top