HEADLINE

Diduga Ada Malpraktek di RSUD , Polisi Otopsi Korban

Kasat Reskrim Polres TTU

KEFAMENANU, Kilastimor.com-Warga Desa Fatusene, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikabarkan menjadi korban dugaan malpraktek pasca menjalani operasi caesar di RSUD TTU beberapa waktu lalu.

Dugaan malpraktek tersebut, mengakibatkan seorang ibu, Bergita Nino meninggal dunia 13 Mei 2018 di rumahnya, di Fatusene.
Kematian Almarhumah Berggita menuai kontraversi sehingga harus dilakukan otopsi.

Proses otopsi dilakukan oleh tim forensik Polda NRR yang dipimpin oleh dr. Putu.
Proses otopsi cukup menarik perhatian ratusan warga setempat pada Sabtu 19 Mei 2018.

Kasat Reskrim Polres TTU, Iptu Nyoman Gede Arya, selasa (22/05) saat diwawancarai awak media menjelaskan, proses otopsi yang dilakukan ini merupakan bagian dari proses penyelidikan guna mengetahui penyebab kematian Almarhumah, Bergita.

Sampel hasil otopsi, lanjut Iptu Nyoman, akan dibawa ke Laboratorium Forensik Bali untuk dilakukan pemeriksaan. Hasilnya akan keluar dalam rentang waktu dua minggu hingga satu bulan bulan ke depan.

“Inti dari otopsi yang dilakukan untuk kita dapat mengetahui penyebab kematian korban, apa karena memang ada keracunan ataukah karena ada penyakit tertentu yang diderita korban, namun tidak disampaikan ke pihak keluarga,” ujarnya.

“Kasus ini menjadi atensi, jadi paling lama dua Minggu sampai 1 bulan hasilnya sudah bisa keluar dan kita akan kembali berkoordinasi dengan dokter ahli guna mendapatkan penjelasan terkait bahasa-bahasa medis hasil dari uji labfor tersebut,” tambah Iptu Nyoman.

Ia menjelaskan, sembari menunggu proses otopsi berlangsung pihaknya akan tetap menjalankan penyelidikan dengan memanggil pihak RSUD TTU.

“Kami sudah melayangkan pemanggilan pihak RSUD TTU untuk dimintai klarifikasi,” sebutnya.

Sementara itu, Robert Salu selaku kuasa hukum keluarga korban kepada awak media mengapresiasi langkah cepat yang diambil oleh polres TTU dalam menangani kasus tersebut.
Salu sendiri menduga kuat korban meninggal akibat adanya malpraktik saat menjalani perawatan usai operasi caesar.

Hal tersebut lantaran sesaat sebelum disuntikkan obat, tuturnya, korban dalam keadaan sehat.

Namun setelah mendapat suntikan obat, korban langsung mengalami kejang-kejang dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir, Minggu, 13 Mei lalu.

“Ini jelas dugaan kuat kami ada malpraktik yang dialami korban, masa siang itu korban masih sehat-sehat dan juga masih menyusui anaknya lalu setelah dapat suntikan obat langsung kejang-kejang dan akhirnya meninggal, saya selaku kuasa hukum bukan saja akan mengajukan tuntutan pidana tetapi gugatan perdata juga akan saya ajukan,” tegasnya.

Dionisius Ulan, selaku perwakilan keluarga korban saat diwawancarai awak media menegaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan segera melakukan aksi damai.
Ulan menilai dr. Agustina Tanusaputra tidak mampu mengelola RSUD TTU hingga akhirnya terjadi kasus tersebut.

Direktur RSUD TTU, dr. Agustina Tanusaputra mengatakan, managemen RSUD TTU mengaku siap untuk memenuhi panggilan Kepolisian setempat untuk memberikan klarifikasi terkait kematian Bergita Nino (44). (isto santos)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top