HEADLINE

Warga Fatubaa Keluhkan Pengadaan Sapi dengan Dana Desa

Inilah sapi yang dibagikan kepada warga Desa Fatubaa.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Masyarakat Desa Fatubaa, Kecamataan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Frederikus Seran mengeluhkan soal pengadaan sapi dengan menggunakan Dana Desa.
Pasalnya, menurut Frederikus, sapi yang diberikan terlalu kecil dan tidak sesuai dengan Perda Belu.

Dikatakan, sebelumnya hal tersebut sudah dilaporkan pada tahun 2017 lalu kepada pihak pemerintahan daerah dan diadukan juga ke Polres Belu. Akan tetapi, laporan tersebut raib dimakan waktu.

“Saya sudah pernah laporkan masalah cetak sawah dan pengadaan babi ke pemerintah dan juga Tipikor. Tapi mereka bilang kades tidak menghadap dan masalahnya didiamkan begitu saja,” ungkap Frederikus kepada awak media pada Kamis (17/05/2018) usai melaporkan hal tersebut ke Tipikor Polres Belu.

Frederikus menuturkan bahwa pengadaan ternak sapi yang didatangkan ke Desa Fatuba’a berjumlah 25 ekor dengan harga Rp 6.500.000/ekor dan babi jumlahnya 30 ekor dengan harga Rp 4.500.000/ekor. Akan tetapi, berdasarkan ukuran ternak yang telah dibagikan kepada masyarakat, menurut Frederikus, harga ternak sapi tersebut maksimal Rp. 4 juta – Rp 4,5 juta sedangkan harga babi itu seharusnya Rp 1 juta – Rp 1,5 juta. “Harga dan ukuran ternaknya koq sangat tidak sesuai,” ungkapnya bertanya.

Dia menceritakan, dirinya pernah bersama petugas dari Provinsi yang mencari ternak sapi untuk dibagikan menggunakan dana desa. Dikatakan, sapi yang diberikan kepada masyarakat adalah sapi yang siap produksi dan ditargetkan tahun berikutnya bisa beranak.

Selain itu, dikeluhkan juga bahwa pembagian ternak tidak merata yang dimana penerima ternak dari tahun lalu sampai tahun ini masih pada orang yang sama. Terlihat penerima pembagian ternak menggunakan dana desa tersebut juga kebanyakan keluarga dekat dan pendukungnya kades.

Padahal dalam aturan pembagian menggunakan dana desa itu diperuntukan bagi semua warga masyarakat secara merata, sehingga diperoleh kesejahteraan masyarakat secara bersama.

Diungkapkan, ada warga yang tahun sebelumnya mendapat sapi, tahun berikutnya kembali mendapat bantuan babi. Sedangkan ada warga yang belum pernah menerima bantuan sekalipun. “Memangnya dana negara hanya untuk kamu-kamu saja kah,” ungkapnya kesal.

Disampaikan juga kebijakan terhadap nama yang dibagikan ternak, tidak didahului dengan rapat forum terbuka di desa tetapi hanya atas pertemuan dengan beberapa kaur (Kepala Urusan) desa.

Ada juga keganjilan dimana setelah dibagikan ternak ke warga desa, baru diikuti vaksin oleh petugas peternakan di rumah-rumah warga yang mendapatkan ternak.

Dirinya mewakili warga desa yang lain sangat mengharapkan agar pemerintah dapat memperhatikan pembagian menggunakan ADD tersebut kepada masyarakat secara merata. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top