HEADLINE

Tarian Likurai, Tebe juga Konser Musik Etnik Meriahkan Foho Rai Festival di Kampung Adat Matabesi

Musik etnik dibawakan dalam Foho Rai Festival.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kegiatan Foho Rai Festival yang sedang berlangsung di Kabupaten Belu, NTT, ternyata memiliki gaung yang cukup besar.

Kegiatan yang disuport oleh Platform Indonesiana dan direncanakan berlangsung di Lima kampung adat tersebut, diawali di kampung adat Matabesi, 3-4 Juli 2018.

Sebagai tempat pertama pelaksanaan kegiatan Foho Rai Festival, panitia dan masyarakat adat Matabesi menampilkan suguhan khasanah adat yang sangat kaya dan bermakna.
Seperti yang terjadi di hari kedua ini, Rabu (4/7/2018), kegiatan Festival tersebut dimeriahkan oleh beberapa sanggar tari dan grup musik etnik.

Sanggar tari dan grup musik tersebut antara lain, sanggar likurai Hadinan Umanen, Sanggar Tebe Ainiba, grup musik SALT, dan grup musik Sumeta Ethnic Fusion.

Tarian likurai dan tebe yang dipertontonkan sangat menghibur karena para penari mengunakan busana adat dengan seting lokasi di perkampungan adat Matabesi.

Para penonton seakan-akan dihantar kembali oleh para penari kembali ke akar budaya mereka yang perlahan-lahan mulai hilang tergerus arus zaman.
Begitu pula dengan konser musiknya. Tampil di penghujung acara, grup musik SALT dan Sumeta Ethnic Fusion berhasil membius penonton dengan beberapa nomor lagu cantik khas daerah Belu. Lagu ‘oras loro malirin’ dan ‘wese we hali’ menjadi pembeda dalam tampilan konser musik tersebut.

Ketika sang vokalis melantunkan kedua nomor lagu tersebut, para penonton terlihat mengikutinya. Hal ini menjadi penanda bahwa ternyata mereka (para penonton, red) masih bisa melafalkan lirik lagu yang menggunakan bahasa Tetun tersebut.

Di akhir acara, kontributor media ini coba mewancarai beberapa orang. Pada umumnya mereka mengapresiasi secara positif kegiatan Foho Rai Festival ini.

“Ketika mendengar akan diadakan kegiatan Foho Rai Festival ini, saya bersama teman-teman musisi merasa terpanggil untuk melibatkan diri secara langsung. Bagi kami Festival ini merupakan satu moment dimana masyarakat diajak kembali mengenal tradisi nenek moyang mereka. Karena itu saya bersama Romo Sixtus coba menghimpun teman-teman musisi dan menamakan nama grup musik kami Sumeta Ethnic Fusion,” ungkap Frans Tanesib selaku manager Sumeta Ethnic Fusion.

“Saya secara pribadi mengapresiasi kegiatan Foho Rai Festival ini. Dan saya berharap setiap generasi bisa terus melestarikan budaya mereka masing-masing. Sebagai seorang insan seni, saya juga senang bisa terlibat langsung dalam kegiatan ini. Salam sukses buat acara di empat tempat yang berikutnya,” kata Sinta Regina sebagai salah satu pengunjung kegiatan sekaligus vokalis Sumeta Ethnic Fusion. (Rm.Filto Bowe,Pr/ dinho mali)

Komentar
Click to comment

Most Popular

To Top