EKONOMI

Mengais Rejeki Disela Meriahnya HUT RI

Penjual tengah menjajakan jagung bakar di Alun-alun Kota Atambua.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Meriahnya berbagai kegiatan jelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ternyata membawa penghiburan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Belu. Mulai dari perlombaan bola kasti hingga gerak jalan menjadikan lapangan simpang Lima sebagai alun-alun Kota Atambua makin ramai dikunjungi masyarakat.

Ditengah meriahnya suasana menjelang HUT RI tersebut, sebagaian kecil masyarakat coba mengais keuntungan. Salah satunya adalah Dominggus Tlonaen (50), salah seorang penjual jagung bakar di depan Hotel Liurai Atambua.

Dominggus bersama sang Istri, Maria Yohanes Akoit (40) sudah 10 tahun berjualan jagung bakar di tempat tersebut, sejak tahun 2008. Dengan berjualan jagung bakar itulah, Dominggus berhasil menyekolahkan kedua anaknya hingga selesai perguruan tinggi.

Tak perlu heran karena penghasilan bersih mereka dalam sehari mencapai Rp250.000. Itu artinya, dalam sebulan mereka berpenghasilan Rp7.500.000. Itu pun saat tidak ada acara.

Pada Agustus hingga Oktober dan Desember, mereka selalu berpenghasilan dua kali lipat dari biasanya. Minimal, penghasilan pada bulan-bulan tersebut sebesar Rp15.000.000.

Maria mengaku kalau dirinya tidak memiliki kebun jagung. Karena itu, mereka selalu membeli jagung dari para petani. Harga per bulirnya Rp2000. Mereka menjual kembali jagung bakar tersebut dengan harga Rp5000.

“Kami tidak punya kebun, jadi kami beli jagung dari orang lain. Hari biasa kami beli 100 bulir, tapi kalau hari-hari begini, kami selalu beli 200 bulir,” ujar Maria sembari tangannya sibuk mengipas arang untuk memanggang jagung di atas alat panggangnya, sedang Dominggus sibuk memisahkan bulir jagung dari kulitnya untuk diberikan kepada Sang Istri.

Sesekali, Maria melempar senyum pada para pembeli yang datang. Ibu dua orang anak ini juga selalu menawarkan jagungnya kepada orang-orang yang lalu-lalang di sekitar tempat jualannya. “Jagung mama… jagung om…”.

Tak pernah terlintas dalam benak kebanyakan masyarakat Belu untuk berjualan jagung bakar. Bagi mereka, pekerjaan seperti itu tidak mampu menjamin masa depan anak-anaknya.

Namun siapa sangka, dengan berjualan jagung bakar itulah Dominggus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan, dengan pekerjaan itu pula, pria setengah abad itu berhasil menyekolahkan anaknya yang pertama hingga lulus sarjana teknik mesin. Sedangkan, anaknya yang kedua lulusan farmasi salah satu universitas ternama di Kota Kupang.

“Saya sadar diri kalau mau jadi PNS karena sekolah tidak selesai SMA. Saya juga tidak pernah sangka kalau penghasilan saya lebih besar dari PNS. Saya hanya bersyukur pada Tuhan yang sudah membuat hidup saya seperti sekarang ini. Kuncinya adalah bersyukur dan bersyukur pada Tuhan karena jalan hidup kita sudah diatur oleh-Nya,” ujar Dominggus sembari tersenyum. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top