HEADLINE

Lecehkan Wartawan, Pena Batas RI-RDTL Polisikan Bos LHB

Wartawan laporkan pengguna medsos di Polres Belu.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL kemarin (31/08) siang melaporkan Vincent Sudjatno ke Polres Belu. Pasalnya terlapor dalam akun Facebook Vincent Sudjatno menyebarkan informasi yang cenderung melecehkan kredibilitas para wartawan Belu yang tergabung dalam Pena Batas RI- RDTL melalui media sosial (face book) group Belu Memilih 2015.

Laporan tersebut terkait salah satu postingan pemberitaan theeast.co.id dengan judul “Pembangunan Mall Pelayanan Publik Atambua Murni Tanggungjawab Kontraktor” di grup facebook Belu Memilih 2015 pada tanggal 28 Agustus 2018.

Postingan tersebut mendapat banyak tanggapan dan komentar dari banyak akun lain yang pro dan kontra. Namun yang membuat para jurnalis yang tergabung dalam Pena Batas gerah adalah komentar dari Bos Toko LHB yang menggunakan akun facebook dengan nama Vincent Sudjatno tersebut menulis pada postingan tersebut menuliskan, “makanya kasus excavator mini sptnya bupati yang diserang. Kan hrsnya kontraktor yg patut ditanya kenapa smp bisa pakai barang tsb. Sy melihat berita sdh spt sentimen pribadi. Mgkn jatah kurang merata atau kurang banyak,” katanya.

Langkah hukum Pena Batas RI-RDTL kemarin siang dilakukan sekretaris Pena Batas, Yansen Bau. Yansen didampingi sejumlah jurnalis di Atambua. Laporan Pena Batas RI -RDTL tersebut diterima anggota
penyidik Unit Tipiter Polres Belu, Bripda Yanuarius Seran.

Pena Batas RI-RDTL melapor pemilik akun facebook karena dalam salah postingannya menanggapi pemberitaan portal media Online www.theeast.co.id tentang Pembangunan Mall Pelayanan Publik Atambua Murni Tanggungjawab Kontraktor,a merespon dengan komentarnya bahwa “Makanya kasus excavator mini sptnya bupati yg diserang. Kan hrsnya kontraktor yg patut ditanya, kenapa smp bisa pakai barang tsb. Sy melihat berita sdh spt sentimen pribadi. Mgkn jatah kurang merata atau kurang banyak,” jelas Yansen Bau.

Yansen menilai pernyataan
akun facebook Vincent Sudjatno sanga melecehkan profesi para wartawan Belu yang tergabung dalam Pena Batas RI-RDTL. Karena itu perlu sikapi dengan upaya hukum sesuai aturan yang berlaku. ” Ini masalah pidana maka penyelesaiannya harus melalui jalur hukum pidana, tidak bisa dengan cara frontal atau kekerasan lain nanti malah menimbulkan masalah baru,” jelas Bau.

Sementara itu pemilik akun facebook Vincent Sudjatno yang juga pemilik toko LBH Atambua ketika dikonfirmasi para wartawan kemarin siang mengaku postongannya hanya bersifat iseng. Walau demikian Vincent bersedia diproses hukum jika komentarnya melecehkan kredibilitas para awak media di kabupaten Belu.

“Komentar saya itu tidak serius, saya minta maaf kalau salah, silakan lapor ke Polisi,” ujar Vincent Sudjatno melalui sambungan telepon selulernya.

Ketua Pena Batas RI-RDTL, Edy Bau yang dikonfirmasi sergap.id menuturkan bahwa komentar akun atas nama Vincen Sudjatno itu bentuk pelecehan terhadap karya jurnalistik dan profesi jurnalis.

“Kalimatnya bahwa berita itu ditulis karena jatah kurang atau tidak merata, itu sebuah penghinaan. Apalagi setelah teman-teman konfirmasi dia mengatakan hanya iseng dan mempersilahkan lapor polisi,” ujar Edy dengan nada meninggi.

Edy Bau menilai apa yang dilakukan akun Vincent ini telah melanggaar UU ITE. Sesuai Pasal 45 ayat 3, UU ITE nomor 19 tahun 2016 menyebutkan;
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

“Karena itu, kami minta polisi segera menindaklanjuti laporan teman-teman dari Pena Batas RI-RDTL,” tegasnya.

Edy menjelaskan bahwa media sebagai ruang publik sebenarnya tidakf menolak kritikan dari pembaca. Karena pada hakikatnya, media publik dalah milik masyarakat. Hanya saja, kritikan tersebut bukan malah berkomentar yang mengarah pada penghinaan atau pencemaran profesi para kuli tinta. Bagi Edy, kritik adalah sebuah proses dimana kita melihat kesalahan orang lain dan memberi masukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

To Top