HEADLINE

Romo Agus: Kasih Tuhan tidak Berubah

Rm. Agus Berek Pr menitikan air mata.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Menjelang prosesi pesta perak pentahbisan di Lelowai, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Rm. Agustinus Berek, Pr meneteskan air mata.

Moment itu terjadi saat rombongan arak-arakan yang menjemput Rm. Agus Berek, Pr di Paroki Nenuk menuju Lelowai, tempat kelahirannya, Kamis (4/10/2018). Sesampai di Lelowai, Rm. Agus Berek, Pr langsung disambut dengan tarian dan Hase-hawaka (sambuatan) bak seorang Raja.
Tanpa sadar, Rm. Agus Berek pun meneteskan air mata. Melihat itu, banyak sanak keluar dan umat yang hadir pun ikut meneteskan air mata.

Sang Yubilaris pun dipakaikan busana adat sebagai tanda penghormatan bagi putra terbaik Lelowai. Pemakaian busana adat itu pun sebagai tanda kebesaran dan kehormatan.

25 tahun bukan waktu yang singkat. Semua umat Lelowai bersyukur atas rahmat Tuhan karena selama itu, Dia telah memilih Rm. Agus Berek untuk mengabdi sebagai hamba-Nya.

“Tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanya sukacita,” pekik Herman Abatan menyambut kedatangan sang Yubilaris.

Bupati Belu, Willybrodus Lay sedikit menceritakan keberadaannya bersama Rm. Agus Berek, Pr selama masih menjadi Pastor Paroki Katedral Atambua. Menurutnya, Rm. Agus punya cara tersendiri untuk mendekatkan umatnya dengan gereja.

Orang Atambua masih membutuhkan Rm. Agus Berek, Pr. Akan tetapi, Uskup Atambua saat itu memiliki pertimbangan yang lain untuk sebuah tujuan yang besar.

“Semoga dengan merayakan imamat yang ke-25, membawa Romo Agus pada sebuah pengabdian yang lebih, dalam menjalankan masa-masa tugas selanjutnya,”

J.T. Ose Luan mewakili keluarga menuturkan, Tuhan memang terkadang melakukan hal-hal yang aneh dan ajaib. Keanehan itu nampak saat seorang anak Lelowai dipanggil untuk mengikuti jalan-Nya.

“Tuhan memanggil orang yang pantas untuk membuat misa. Ada misi dan maksud untuk memanggil dia. Berada di tengah-tengan Umat Allah, dia harus membagi kasih sayang,” ujar Ose Luan.

Memang benar dalam hidup ini, ada tiga hal yang tak dapat diulang yaitu Waktu, ucapan, dan kesempatan. Setiap orang mempunyai kisahnya sendiri. Hari ini, Agus Berek telah membuat kisahnya untuk melanjutkan hidupnya sebagai seorang gembala.

Rm. Agus dalam sambutannya menuturkan bahwa 25 tahun yang lalu, dia datang ke Lelowai dengan rambut yang masih lebat dan didampingi kedua orang tuanya. Namun kini semua telah berubah.

“Dulu datang dengan rambut panjang… sekarang botak. Dulu datang didampingi bapa dan mama… sekarang didampingi oleh kaka,” ujarnya mengenang 25 tahun silam.

Dalam waktu 25 tahun ini, sudah ada banyak hal yang berubah. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah yaitu kasih Tuhan karena Allah adalah Kasih, Deus Caritas Est.

“Satu hal yang selalu membuat saya bergembira menghayati imamat ini karena 1 Yohane 4:16. Allah adalah Kasih (Deus Caritas Est). Mengapa? Karena segala sesuatu di Dunia ini tanpa kasih akan sia-sia” tuturnya.

Dikatakan dasar biblis ini juga diambil sebagai motto tahbisannya karena latar belakang hidupnya. Dikatakan bahwa dia lahir dan dibesarkan di kampung Lelowai, sebuah kampung yang telah “dibuat tanda merah yang besar” di kantor polisi.

“Inilah kebaikan Tuhan. Dia mengambil, memanggil, memilih, dan menetapkan orang-orang yang jauh dari jalan untuk kembali ke jalan yang benar. Maka motto ini saya pilih Deus Caritas Est”, pintanya.

Untuk diketahui, acara syukuran Pesta Perak Pentabisan Rm. Agus Berek, Pr akan dilaksanakan pada Jumat (5/10/2018) di Lelowai, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu. Misa syukur akan dimulai pada pukul 10.00 Wita dipimpin oleh Mgr. Dominikus Saku, Pr. (richi anyan)

Komentar
Click to comment

Most Popular

Copyright © 2017 KILASTIMOR.COM

To Top