HEADLINE

Kemendikbud: Para Makoan Telah Menjaga Nilai Budaya Belu

Festifal Fulan Fehan 2018.

ATAMBUA, Kilastimor.com-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Muhajir Effendy, MPA memberi apresiasi yang tinggi kepada para makoan atau penutur adat di Kabupaten Belu yang terus melestarikan budaya kearifan lokal dan berkelanjutan.

Suhartini

Para makoan Belu, katanya telah menjaga nilai budaya khas masyarakat adat Belu, kepada semua lapisan generasi.

Demikian disampaikan Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dra. Sri Hartini, M.Si, di Acara Pementasan Drama Musical An Tama yang dilangsungkan di Padang Sabana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu. Sabtu (6/10/2018) lalu.

Dikatakan, Belu ini tidak hanya untuk Indonesia, akan tetapi untuk dunia. Dan tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan Platform Indonesiana dan baru 9 Provinsi (16 Kabupaten/Kota) yang telah bersama-sama melaksanakan Platform Indonesiana.

Platform Indonesiana ini adalah Platform gotong royong sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Disebutkan, Festival Kampung Adat yang digelar merupakan sarana untuk membidik kembali peran dan fungsi makoan yang semakin tergerus oleh perkembangan zaman.

“Hari ini kita saksikan bersama puncak Festival Fulan Fehan. Sebelumnya Bapak Dirjen Kebudayaan diutus Bapak Menteri pada bulan Juli saat pelaksanaan Festival Kampung Adat. Di dalam payung hukum kebudayaan, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, ada 10 obyek Pemajuan Kebudayaan. Salah satunya adalah soal ritus atau upacara. Rangkaian festival yang meliputi ritual adat, secara langsung Bupati Belu beserta jajarannya menampilkan peranan penting makoan sebagai juru kunci tatanan pengetahuan budaya,” ujarnya.

Sebagai penutur atau pencerita sastra yang baik, apa yang dilakukan oleh para makoan merupakan kekayaan keberagaman kita yang ada di negeri ini.

“Memang kenyataannya Indonesia memiliki keberagaman yang sangat luar biasa dan tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Platform Indonesiana adalah platform kerja sama gotong-royong semua pihak, sehingga acara ini terselenggara atas gotong-royong dengan Bekraf, Pariwisata, Menko PMK, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi,” katanya.

Hartini menjelaskan, Platform Indonesiana ini menjadi program yang harus terus menerus bersama-sama dan berjalan.
Kementerian Pariwisata dan PMK sangat konsen dan siap menyanggah program tersebut dari pinggiran Indonesia.

“Karena disinilah sesungguhnya peningkatan ketahanan budaya, yang menjadi kontribusi masyarakat Kabupaten Belu terhadap kebudayaan Indonesia di dalam rangka peradaban dunia. Kita siap, karena Bupati Belu, Willybrodus Lay sangat konsen terhadap kebudayaan,” jelasnya.

Kemendikbud ujarnya, sudah menginventarisasi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang belum disampaikan oleh setiap Kabupaten, Kota dan Provinsi.

“Kami punya catatan, mohon maaf ini harus kami sampaikan, bahwa tahun 2019 akan ada Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk kebudayaan. Syaratnya penyusunan PPKD harus selesai, karena ini akan membantu meringankan Pemerintah Daerah, terkait keberadaan taman budaya dan museum,” tandasnya.

Bupati Belu Willybrodus Lay, SH mengatakan, Panggung Festival Fulan Fehan berhasil mengekspresikan budaya dan kesenian “Tarian Likurai” sebagai salah satu aset budaya lokal yang berhasil memecahkan rekor muri dunia dengan menampilkan 6.000 ribu penari.
“Hari ini kita berada bersama-sama seluruh masyarakat Kabupaten Belu ditempat yang sama untuk menyaksikan Drama Musical Antama. Penyelenggaraan Drama Musical kali terselenggara atas kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kementerian Pariwisata RI, Tim Indonesiana, ISI Surakarta dan seluruh masyarakat Kabupaten Belu,” ungkapnya.

Disampaikan pula, pada tahun sebelumnya, Festival yang dilaksanakan dari pinggiran Indonesia ini bertepatan dengan pelaksanaan Hari Sumpah Pemuda ke–89 tingkat Kabupaten Belu. Tahun ini Festival Fulan Fehan akan menampilkan Tarian Musical An Tama yang diikuti 1.500 penari.
“Usai pementasan Tarian Musical An Tama, kita semua diundang untuk merajut kebersamaan dalam acara “Makan Persahabatan”. Mari kita jadikan wilayah ini sebagai daerah perbatasan yang paling aman di dunia. Tahun depan kita akan tampilkan lagi ekspresi budaya dan kesenian dalam panggung Festival Fulan Fehan ke 3 pada bulan Oktober 2019,” pungkasnya.

Turut hadir Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dra. Sri Hartini, M.Si; Ketua Komisi V DPR RI Farry Djemi Francis; Asisten 2 Sekda Provinsi NTT, Alexander Sena; Bupati Halmahera Barat Danny Missy; Unsur Forkopimda Kabupaten Belu; Wakil Bupati Belu Drs. J. T. Ose Luan; Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Pekuwali; Ketua Tim Pengerak PKK Kabupaten Belu Viviawati Lay Ng; Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Halmahera Barat Yohana Missy; Agen Konsulat dan Duta Besar Timor Leste; Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT; Deputi 6 Bekraf; Dekan Fakultas Seni Pertunjukan dan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain serta Kepala Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ISI Surakarta; Asdep Warisan Budaya Kemenkop PMK, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia; Perwakilan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia; Perwakilan Suku dan Etnis di Kabupaten Belu; Pimpinan OPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Belu, Camat, Lurah dan Kepala Desa Se-Kabupaten Belu; Pimpinan Organisasi Wanita Se-Kabupaten Belu; Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda se-Kabupaten Belu. (pkpsetdakabupatenbelu/adv)

Komentar
Click to comment

Most Popular

To Top