Rayakan Hari Perkebunan ke-61, Distan NTT Gelar Festival Kopi Flobamora – KILASTIMOR.com
EKONOMI

Rayakan Hari Perkebunan ke-61, Distan NTT Gelar Festival Kopi Flobamora

KUPANG, Kilastimor.com-Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang diperdagangkan secara luas di dunia. sekitar 2,25 cangkir kopi di konsumsi peninkmat kopi seluruh dunia setiap harinya.
Hal ini merupakan peluang yang sangat besar bagi kita karena beberap daerah di provinsi NTT sangat potensial untuk pengembangan kopi arabika dan robusta. Oleh karenanya berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi, produktifitas dan mutu komoditas kopi NTT.

Kadis pertanian NTT,Ir. Yohanes Tay, MM. dalam laporannya pada Festival Kopi Flobamora menyampaikan cita rasa kopi Flobamora cukup beragam, unik dan merupakan kopi spesialiti yang telah di ekspor ke Eropa, Amerika dan Australia. Hingga pertengahan tahun 2018 ekspor kopi arabika Flores Bajawa dan Manggarai telah mencapai 65 ton ke Australia. “Namun produk kita belum dikenal luas oleh masyarakat NTT misalnya industri perhotelan di Kota Kupang,” sebutnya.

NTT memiliki kopi eksotis yang langka yakni kopi Juria Manggarai dan Yellow Catura yang harus dijaga dan kembangkan, karena memiliki keunggulan yang komperatif.

“Saat ini kita telah memiliki keunggulan kopi dengan sertifikasi organik dan indikasi geografis (IG) yakni kopi Arabika Flores. Kedepan kita kembangkan kluster robusta sumba dan timor karena potensi pasar dan agroklimat mendukung,” ungkap Yonahes Tay, Sabtu (22/12/18).

Lanjut Yohanes, Festival Kopi Flobamora merupankan ajang memperkenalkan, mempromosikan dan menyebarluaskan informasi tentang kopi Flobamora kepada konsumen. Yohanes berharap kegiatan ini juga menjadi even tetap tahunan dalam rangka meningkatkan pendapatan produsen kopi hulu-hilir dan sebagai salah satu obyek wisata kuliner.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi dalam sambutannya saat membuka Festival Kopi Flibamora menyampaikan, pertanian merupakan sektor andalan di NTT, yang telah menopang perekonomian daerah dan berkontribusi terhadap kesempatan usaha, lapangan kerja, penyediaan bahan baku industri, pemenuhan nutrisi, pertumbuhan ekonomi daerah serta pemamfaatan konservasi lahan marginal.

Kontribusi PDRB pertanian sebesar 34,18% dan subsektor perkebunan sebesar 4,01%. Komoditas perkebunan seperti kopi, vanili dan cengke merupan emas Hijau yang menjadi primadona dan rebutan bangsa-bangsa.

Lanjut Josef, komoditas perkebunan NTT, kopi, kakao, jambu mete, kelapa, cengke, kemiri dan vanili menjadi sumber pendapatan petani. Luas area kopi arabika dan robusta di NTT adalah 66.370 Ha dengan produksi mencapai 22.228 ton. Namun produksi kopi di NTT saat ini baru 0,6 ton per ha.

“Kedepan kita akan kita akan melaksanakan pengembangan wilayah pariwisata berbasis komoditas perkebunan kopi, untuk mendukung destinasi wisata di NTT dengan pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (PBM) atau community Based Tourism (CBT). (sani asa)

Komentar
Click to comment

Most Popular

To Top