HUKUM & KRIMINAL

Lagi, Masyarakat Kobalima Serahkan Senpi ke Danki Pos 3 Motamasin

BETUN, KilasTimor.com-Danki Pos 3 Motamasin, Lettu Arief Chandra Gunawan bersama jajarannya kembali mengukir prestasi. Sebulan lalu anggotanya di perbatasan menerima sepucuk senjata api (Senpi), kini Arief Chandra Gunawan secara langsung menerima satu pucuk senjata laras panjang/lontak musket, jenis springfield kal 15 mm buatan Amerika dari warga perbatasan pada Selasa (28/4), yang menolak dimediakan.

Kebersamaan Danki 3 Motamasin, Arief Chandra Gunawan bersama seluruh jajarannya yang selalu hidup, tinggal dan menyatu dengan warga perbatasan RI-RDTL, melalui berbagai kegiatan bakti sosial, karya bakti dan pelaksanaan kegiatan ibadah yang dilaksanakan secara rutin serta kegiatan sosialisasi kepemilikan senjata secara illegal kepada masyarakat binaan pos Motamasin, cukup membawa dampak yang baik.

Masyarakat bisa menyatu dalam kebersamaan seolah tidak ada sekat-sekat pemisah, sehingga kembali menyerahkan sepucuk senjata ilegal yang seharusnya tidak boleh disimpan warga sipil.
“Saya bersama anggota di Pos Motamasin hanya berusaha keras untuk bekerja di kawasan perbatasan. Kami sadar bahwa kami tidak sendiri, sehingga tetap membina hubungan baik dengan semua warga di perbatasan tanpa perbedaan, sehingga kami sangat menyatu dengan mereka. Kita juga sangat senang karena bisa saling membina komunikasi dan bekerja sama dengan semua elemen masyarakat di wilayah perbatasan ini, untuk membangun saling pengertian dan kerja sama yang sangat baik,” papar Arief kepada wartawan media ini.

Baca Juga :   Investasi Garam, Kepala Daerah Diminta Tuntaskan Masalah Lahan

“Saya tidak mengira masih ada juga warga perbatasan yang mau datang menyerahkan senjata kepada kami secara sukarela sebagai tanda terima kasih atas kebersamaan kami selama ini. Kita sangat senang karena saat menyerahkan senjata itu mengatakan kepada saya dan anggota yang ada sebagai wujud terimakasih atas kebersamaan kami selama ini, layaknya sebagai keluarga besar di perbatasan,” terangnya.

“Pada saat penyerahan senjata, menurut pengakuannya bahwa senjata itu didapatkan pada jajak pendapat tahun 1999 kemudian disimpannya hingga saat ini. Karena merasa tidak nyaman maka senjata itu diserahkan di pos Satgas Pamtas RI-RDTL, Motamasin, RI-RDTL,” ujarnya.

“Dia terpaksa menyembunyikan senjata itu dan baru berani menyerahkan saat ini, karena takut diproses hukum. Kita selama ini secara intensif melakukan penggalangan dan menjelaskan bahaya menyimpan barang Jatmuhandak dan pada akhirnya yang bersangkutan mau menyerahkannya secara sukarela,” pungkasnya. (oni).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top