RAGAM

Puluhan Warga Naas dan Maktihan, Malaka, Keracunan Ikan

BETUN, Kilastimor.com-Puluhan warga Desa Naas dan Maktihan, Kecamatan Malaka Barat, keracunan ikan setelah mengkonsumsi ikan yang dijual penjual keliling. Dugaan kuat ikan-ikan itu dibawa dari luar Malaka dan diawetkan dengan bahan pengawet dan formalin.

Beberapa warga korban keracunan ketika dikonfirmasi wartawan, Kamis (28/5) membenarkan hal itu. “Kami sekeluarga merasa mual dan muntah-muntah setelah mengkonsumsi ikan kombong yang dijual penjual keliling yang mengendarai sepeda motor. Setelah makan ikan, mata kami merah-merah, gatal, mual dan muntah-muntah,” beber salah seorang ibu yang berdiam di dusun Abad, Desa Naas.

“Mama saya juga tadi keracunan setelah makan ikan ekor kuning yang dibeli dari penjual kelilingan menggunakan sepeda motor. Mama saya badannya gatal-gatal, mual dan muntah-muntah bahkan sampai semaput tidak sadarkan diri. Untung saja mama dikasih minum susu dan air kelapa muda sehingga segera tertolong,” tambah seorang ibu setengah baya kepada wartawan.

“Saya dan keluarga juga mengalami hal yang sama setelah mengkonsumsi ikan yang dijual penjual kelilingan itu”, ujar Yosef B, salah seorang korban lainnya.

Beberapa warga desa Maktihan-Kecamatan Malaka Barat juga mengalami hal yang sama. “Kami sekeluarga keracunan setelah makan ikan yang dijual pedagang keliling yang menjual ikan mengendarai motor. Kami sudah tanya ternyata ikan-ikan itu dibawa dari luar Malaka dan diduga kuat dikirim dari Atambua dan Kupang. Tadi kami dengar banyak keluhan warga yang keracunan setelah mengkonsumsi ikan-ikan yang dijual itu,” beber beberapa warga Maktihan yang ditemui wartawan.

Baca Juga :   September Mendatang, Ibu Negara Bakal Kunjungi Malaka

Menurut informasi yang dihimpun wartawan, belakangan ini wilayah Kecamatan Malaka Barat dan beberapa Kecamatan tetangga seperti Weliman dan Wewiku sering didatangi penjual ikan keliling.
Menurut informasi, ikan-ikan itu dikirim dari Kupang dan Atambua jika persediaan ikan di beberapa wilayah itu mengalami kekurangan. Dari pantauan wartawan, ikan-ikan yang dijual itu bebas dilakukan masyarakat tanpa pengawasan ketat pemerintah. “Kami terpaksa menggunakan pengawet untuk mengawetkan ikan-ikan itu supaya tetap bertahan dan tidak rusak. Kami terpaksa melakukan itu supaya bisa bertahan karena dikirim dari jauh sehingga tidak rusak,” ungkap salah seorang penjual ikan yang minta identitasnya tidak dimediakan.

Atas kondisi ini, pemerintah hendaknya cepat bertindak, agar meminimalisir adanya korban keracunan ikan. Dinas Kesehatan harus melakukan operasi dan tes laboratorium atas ikan maupun jenis makanan lainnya.(oni)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top