HUKUM & KRIMINAL

Anak Berhadapan dengan Hukum Wajib Dapat Perlindungan Khusus

KUPANG, Kilastimor.com-Anak yang berhadapan dengan hukum di NTT, khususnya di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, perlu mendapat perlindungan khusus. Hal ini wajib, karena fisik dan mental anak belum dewasa dan matang.
Demikian dikatakan Kepala Pusat Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) Universitas Nusa Cendana Kupang, Deddy R. CH. Manafe, saat memberikan penguatan kapasitas bagi staf lembaga Rumah perempuan Kupang, terutama alur penanganan anak pelaku, korban, dan
sanksi pidana, Jumat (12/6/2015) lalu.

Peserta kegiatan tersebut antara lain, Koordinator Divisi
Advokasi, Koordinator Divisi Pendampingan Korban serta Koordinator Divisi Publikasi beserta staf devisi.

Dedy mengatakan, untuk menjaga harkat dan martabatnya, anak berhak mendapatkan pelindungan khusus, terutama pelindungan hukum dalam sistem peradilan. Sistem peradilan pidana anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan, setelah menjalani pidana.

Libby Ratuarat-Sinlaloe

Libby Ratuarat-Sinlaloe

Anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana,” katanya.

Dia menguraikan, anak yang berkonflik dengan hukum, merupakan anak yang telah berumur 12 tahun. Sementara anak yang menjadi korban tindak pidana adalah anak yang belum berumur 18 tahun, yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi, yang disebabkan
oleh tindak pidana. “Untuk itu seorang anak yang berhadapan dengan hukum perlu mendapat perlindungan khusus, sesuai dengan alur penanganan,” bilangnya.

Baca Juga :   Kepala DPK: Ayo Makan Ikan agar Sehat, Kuat dan Cerdas

Sementara itu Koordinator Lembaga Rumah Perempuan Kupang, Libby Ratuarat-Sinlaeloe mengatakan, penguatan kaspistas yang dilakukan oleh Pusat Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) Universitas Nusa Cendana Kupang, berkaitan dengan program pelaksanaan yang dijalakan oleh Lembaga Rumah Perempuan.

Lembaga Rumah Perempuan Kupang katanya, memiliki program pendampingan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), remaja berhadapan dengan hukum (RBH) dan juga program anak mendapat perlindungan khusus (AMP). Karena program yang ada, maka perlu adanya penguatan kapasitas soal bagaimana alur penangananya.

“Sesuai data Lembaga Rumah Perempuan Kupang, hingga saat ini telah melakukan pendampingan terhadap ABH dan RBH sebanyak 1.000 anak dan remaja, serta AMP sebanyak 168 anak. Dan juga masih ada lagi pendampingan yang dilakukan Lembaga Rumah Perempuan lainnya. (rif)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top