RAGAM

Masyarakat Oenbit Minta Pemkab TTU dan PT. ERI Kembalikan Lahan Mereka

Dia menjelaskan, PT. ERI melakukan penambangan tidak sesuai prosedur, dan PT. ERI tidak pernah melukakan sosialisasi kepada masyarakat, soal kehadiranNya di Insana. Selain itu, tidak ada ritual adat yang dilakukan oleh PT. ERI dan masyarakat, dan sebagian besar masyarakat Insana tidak mengetauhi adanya pertambangan.

Andreus Leu Ataupah Ketua suku Ataupah menegaskan, dirinya tidak sepakat dengan pernyataan Bupati TTU soal pendekatan antara PT. ERI dan masyarakat. Hingga saat ini, tidak ada Kesepakatan masyarakat dengan PT. ERI. “Kami mau adalah cabut IUP Operasi Produksi PT. ERI. Saya heran dengan pernyataan bupati. Suku besar adat Naikofi, Ataupah dan (Tamukuha) Ceonfin, Moensaku, Sau, Anunut, Usolin, Uskono meminta dicabut izinnya. Lahan tambang yang ada, merupakan tanah bersejarah dan suku-suku besar ini tidak menyetujui adanya Pertambangan di Desa Oenbit,” tuturnya.

Andreas mengatakan, apa yang telah disampaikan oleh manager PT. ERI kalau di lokasi tambang tidak terdapat rumah ibadah serta pemukiman, merupakan sebuah pembohongan publik. Karena lahan seluas 1.623 hektar itu, termasuk dengan dengan tempat Ibadah dan pemukiman masayarakat, yang nantinya menjadi lokasi Tambang PT. ERI.

Hal senada juga disampaikan oleh Eris Tikneon. Sekretaris Umum Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kefa itu mengatakan, tambang yang ada, tidak memiliki dasar yang kuat. Masyarakat dalam hal ini pemilik lahan disekitaran lokasi pertambangan, sangat kecewa karena akibat dari penambangan ini sudah menimbulkan banyak kerusakan alam.

Baca Juga :   KPU NTT Siap Gelar Pilgub NTT Besok

Masyarakat menuntut agar Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes, segera mencabut Ijin Usaha pertambangan (IUP) PT. ERI . Apabila tidak dicabut, maka masyarakat mengancam untuk mendatangi Bupati, untuk meminta pertanggungjawabannya. (ger)

Pages: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top