RAGAM

Ubi Kayu ‘Salah Sangka’ Bernilai Ekonomis dan Mampu Tembus Pasar Lokal

BETUN, Kilastimor.com-Ubi Kayu “Salah Sangka” yang dinamai warga Kecamatan Kobalima ternyata menjadi salah satu komoditi pertanian unggulan dan memiliki nilai ekonomis.

Jenis ubi kayu atau singkong “Salah Sangka” itu, mampu menembus pasar lokal, dengan harga jual per are saat panen bisa mencapai Rp 1 juta.
Dengan hasil itu banyak warga yang bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana dan membuat rumah permanen layak huni.

Blasius Tes, warga dusun Webua-Desa Rainawe-Kecamatan Kobalima menjadi contoh yang patut ditiru. Tanpa dibekali pendidikan yang memadai, Blasius Tes mampu mengkoordinir teman-teman desanya menanam jenis ubi tersebut, untuk dipasarkan secara berksesinambungan selama setahun tanpa putus.

Blasius Tes

Blasius Tes

“Saya sudah mengembangkan jenis ubi kayu “salah sangka” selama empat tahun terakhir, dan cukup memberikan hasil bagi peningkatan ekonomi keluarga. Saya bisa sekolahkan dua anak dan sudah diwisuda menjadi sarjana dan bisa membangun rumah permanen yang layak huni bagi keluarga. Saya senang karena melalui komoditi pertanian ini bisa mengangkat ekonomi keluarga. Kita harapkan petani di Kobalima bisa turut memgembangkan jenis ubi ini guna peningkatan ekonomi keluarga,” ujarnya.

“Saat pertama saya menanam ubi ini banyak dicemoohkan teman petani yang lain. Namun sesuai proses waktu pikiran itu berubah. Hanya dengan 1 are saya bisa hasilkan uang satu juta dan bisa menyekolahkan dua orang anak dan bisa bangun rumah permanen,” bebernya.

Baca Juga :   Pemkab Malaka akan Bangun Jembatan Alternatif Baru Benenain

“Saya menanam ubi jenis itu untuk melayani kebutuhan pelanggan di Kota Betun dan Atambua sebagai bahan dasar pembuatan kripik. Kita punya pembeli tetap dan setiap minggu tetap suplai bahan baku ubi kayu dengan hasil penjualan per karung kecil bernilai Rp 50 ribu per karung dan kalau sudah panen satu are bisa mencapai Rp 1 Juta,” jelasnya.

“Karena permintaannya tetap dan harus berkesinambungan selama setahun maka saya bekerja sama dengan warga Desa Rainawe untuk bersama-sama menanam ubi kayu jenis itu. Selama 4 tahun kita tetap konsisten malakukan penanaman dan mampu mensuplay kepada pelanggan tanpa putus,” ujarnya. “Untuk saat ini kita masih menjual bahan baku mentah kepada pengusaha yang memproduksi kripik, namun demikian kita berharap suatu saat nanti petani disini bisa mengolahnya sendiri, menjadi kripik maupun makanan kecil dengan bahan baku ubi kayu “salah sangka”. Kita masih lihat peluang pasar, sehingga kedepan bila ada peluang pasar maka bisa dilakukan sendiri produksi di Kobalima untuk meningkatkan ekonomi petani di wilayah ini,” ujarnya. (oni)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top