RAGAM

Kurang Sosialisasi, Warga di Perbatasan Belu Masih Salah Melafalkan Pancasila

ATAMBUA, Kilastimor.com-Warga Desa Makir, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, belum melafalkan Pancasila secara benar. Sejumlah warga yang diminta melafalkan Pancasila, malah menyebutkan secara tidak beraturan.

Tampak anggota DPR/MPR RI lakukan reses dan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Makir, Lamaknen, Belu.

Tampak anggota DPR/MPR RI lakukan reses dan sosialisasi empat pilar kebangsaan di Makir, Lamaknen, Belu.

Hal tersebut terjadi saat Anggota DPR/MPR RI, Ferry Kase melaksanakan kegiatan reses serta sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika di Desa Makir, Jumat (10/7/2015).

Hadir dalam kegiatan itu Lembaga Adat Makir yakni Nai (Raja) Makir, Vinsen Bere Mor bersama para fetor serta ribuan warga dari dua desa perbatasan.

Berdasarkan pantauan media, lima warga dimintai untuk menyebutkan lima sila pancasila, tidak mampu melafalkan sesuai urutan yang sebenarnya.

Ada warga yang melafalkan isi kedua pancasila sebagai sila pertama, juga isi ketiga sebagai sila pertama. Bahkan ada warga yang melafalkan sila keempat tapi menambahkan lagi kata, “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemerintahan pontius pilatus”. Sontak ribuan warga yang hadir pada kegiatan itu tertawa.

Kendati demikian, warga tetap mengetahui pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Selain itu Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia, UUD 1945 sebagai landasan dasar negara Indonesia serta NKRI bentuk negara Indonesia.

“Biar salah sebut isi Pancasila, kami ini tetap warga negara indonesia,” ucap seorang ibu yang juga salah melafalkan isi Pancasila.

Baca Juga :   Pemkot Kupang Dinilai Lemah Mengimplementasi Perda RDTL

Usai kegiatan Anggota DPR/MPR RI, Ferry Kase mengungkapkan, dirinya sangat salut dan bangga terhadap ribuan warga Desa Makir dan Desa Lamaksenulu yang punya semangat menghadiri kegiatan tersebut.

Dikatakan, salah atau benar bukan menjadi soal, namun semangat dan nilai pancasila tetap tertanam dalam diri warga di wilayah perbatasan. “Saya salut dengan semangat nasionalisme warga di perbatasan. Biar kondisi hidup di wilayah batas dengan jalan yang rusak, ketiadaan listrik serta jaringan telepon, warga tetap teguh dan cinta dengan tanah air Indonesia.

Semangat nasionalisme warga di perbatasan ini yang patut diberikan apresiasi,” ucap Anggota DPR RI asal NTT itu.

Anggota Komisi X DPR RI itu menuturkan, kedatangan dirinya ke desa yang terdapat di wilayah terdepan negara Indonesia ini merupakan bagian dari masa kerjanya di daerah (reses). Selain itu juga melakukan sosialisasi empat konsensus dasar RI dalam kapasitasnya sebagai anggota MPR RI. (yan)

Loading...
Loading...
To Top