RAGAM

Melki Hidup dengan Kelainan di Perut. Keluarga Pasrah karena Ketiadaan Uang

ATAMBUA, Kilastimor.com-Melkianus Susar Bouk, bocah 11 tahun ini harus melewati masa hidupnya dengan menderita kelainan pada bagian perutnya.

Buah hati dari pasangan Karlus Bouk dan Anggelina Abuk yang berdomisili diperkampungan Rareno, Desa Renrua, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu ini, membutuhkan uluran pertolongan.

Melki, bocah 11 tahun mengalami kelainan di bagian perut sedang bersama ibunya Anggelina Abuk

Melki, bocah 11 tahun mengalami kelainan di bagian perut sedang bersama ibunya Anggelina Abuk

Bocah ini menderita kelainan dibagian perut. Kelainan itu hingga kini belum diketahui penyebabnya. Ketika selesai makan maka benjolan akan membesar dengan sendirinya. Benjolan itu akan kembali mengecil disaat tidak sedang makan atau dalam kondisi lapar.

Melki hidup bersama kedua orang tua dan dua kakaknya, tinggal di sebuah gubuk sederhana. Seumuran dengan bocah lainnya, Melki tetap tumbuh dan hidup seperti biasanya dan tidak pernah mengeluh kesakitan.

Ayah dan ibu Melki hanyalah seorang petani. Namun, Ayahnya dikenal sebagai seorang Guru Agama karena dalam kehidupan sehari-hari selalu memimpin warga dusun Rareno dalam hal keagamaan.

Melki terlihat normal dan sehat saat ditemui di kediamannya. Hanya saja, siswa Kelas 2 SDK Webora, Desa Raimanus itu tampak murung. Akan tetapi kedua orang tua serta dua kakaknya terus menghiburnya dengan berbagai cara.

“Selama ini tidak pernah mengeluh sakit. Justru dia selalu pergi ke sekolah seperti teman-teman lainnya dan selalu bermain bersama,” sebut Anggelina Abuk di kediamannya Dusun Rareno, Senin (20/7/2015) lalu.

Baca Juga :   Terlibat Seks Terselubung, Elemen Masyarakat Diminta Proaktif Awasi Pelajar

Tutur ibunya, semasa Melki berada dalam kandungan, dirinya tidak merasa ada kelainan atau kejanggalan. Akan tetap disaat melahirkan, usus dalam perut dapat terlihat dari luar, karena kulit perut yang tipis.

Bocah Melki dilahirkan dirumah tanpa ada penanganan dari tenaga medis. Terpaksa melahirkan dirumah karena jarak rumah dengan Puskesmas sekira 15 kilo meter sangat jauh ditambah lagi dengan kondisi jalan yang rusak parah.
Usai melahirkan barulah kedua orang tua membawa Melki ke Puskesmas Seon guna mendapat penanganan kesehatan.

“Kami terpaksa menjual sapi saat itu karena untuk biata berobat. Sempat kami berobat ke Rumah Sakit Atambua, tapi kami pulang kembali karena tidak ada uang,” ucap Abuk penuh sedih.

Lanjut Abuk, sejak saat itu dia bersama suaminya tidak bisa berbuat apa-apalagi, karena tidak memiliki uang untuk mengobati kelainan itu. Bauk bersama suaminya hanya bisa pasrah dengan kondisi anaknya yang terus bertumbuh besar.

“Kami belum tahu ini penyakit apa dan kalau dioperasi pasti biayanya mahal sekali. Terus kami ambil uangnnya dimana,” ujar dia seraya menitikan air mata. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top