HUKUM & KRIMINAL

Polisi Periksa Ketua Kelompok, Terkait Bantuan Sapi di Desa Raifatus, Raihat, Belu

ATAMBUA, Kilastimor.com-Ketua kelompok Tunas Baru, Yakobus Rani Laka, Warga Desa Raifatus, Kecamatan Raihat‎ menjalani pemeriksaan sebagai saksi oleh pihak penyidik Satreskrim Polres Belu.
Pemeriksaan tersebut terkait laporan warga atas kasus dugaan penyelewengan dana pengadaan ternak sapi TA 2014 di desa yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste itu.
Pantauan media ini di Polres Belu sekira pukul 11.00 Wita, Jumat (7/8/2015), penyidik Polres Belu memeriksa Yakobus, untuk mendapat keterangan lebih lanjut.

Kapolres Belu, AKBP Raja Sinambela

Kapolres Belu, AKBP Raja Sinambela

Kapolres Belu, AKBP Raja Sinambela yang dikonfirmasi sebelumnya, mengakui telah mendapatkan laporan warga tersebut, terkait pengadaan ternak sapi di Desa Raifatus Kecamatan Raihat TA 2014 lalu. Dan sebagai tindak lanjut, pihaknya mulai mengambil keterangan para saksi. “Kita lakukan penyelidikan dengan azas pra duga tak bersalah. Nanti akan dilihat perkembangannya,” ujar dia.

Sebelumnya, kasus tersebut dilaporkan Pemuda Desa Raifatus yang menamakan diri Forum Pemuda Peduli Pembangunan
Desa Raifatus, Marselino Soares dan Oktovianus Musu. Dalam tembusan laporan yang diterima media massa, kelompok tersebut mendapatkan bantuan pengadaan sapi senilai Rp 754.000.000 untuk 24 anggota kelompok.

Akan tetapi, tidak diketahui berapa jumlah ekor sapi yang diberikan kepada setiap anggota kelompok, sebab jumlah yang telah diberikan kepada setiap anggota berbeda. Mereka merincikan, satu warga dapat satu ekor sapi, dua bahkan tiga ekor. Ada juga warga ada yang hanya diberikan uang tunai.

Baca Juga :   Pemafaatan Dana BOS Harus Sesuai Juknis

Pengadaan ternak itu antara lain, sebanyak 105 ekor yang terdiri dari sapi betina 90 ekor dan 15 ekor sapi jantan. Dari pengadaan tersebut, diduga terjadi penyimpangan anggaran, pasalnya dalam RAB terdapat harga sapi betina seharga Rp 4.500.000 dan sapi jantan Rp 6.000.000. Namun kenyataan yang dibayarkan kepada anggota sapi betina Rp 3.250.000 dan sapi jantan Rp 4.500.000.

Maka dengan demikian jika ditotalkan, untuk pembelian sapi sebesar Rp 495.000.000, tapi yang dibelanjakan hanya sebesar Rp 360.000.000. Selain itu juga ada pemotongan kepada anggota kelompoknya Rp 500 ribu perekor, dengan alasannya akan diberikan kepada orang dinas dan kecamatan.

Tidak saja itu, ada juga pemotongan untuk kas kelompok per ekor sapi Rp 500 ribu dan sampai saat ini tidak dipertanggungjawabkan. Selain itu, pemotongan untuk pembebasan lahan per ekor sapi Rp 250 ribu (kontrak selama satu tahun) dan anggota tidak pernah tahu lahan warga dibayar berapa.

Jumlah pemotongannya dari anggota untuk biaya tak terduga, kas kelompok, pembebasan lahan sebesar Rp 1.250.000 x
105 ekor sapi senilai Rp 131.250.000 dan keberadaan uang sampau sekarang tidak diketahui. Warga juga mendapat potongan untuk pembuatan kandang sapi Rp 150 juta. Padahal kandangnya dikerjakan secara swadaya oleh
kelompok tanpa biaya, sementara untuk anggota yang tidak hadir maka uangnya dipotong.

Bantuan tersebut itu juga, tulis mereka, diduga tidak tepat sasaran, sebab anggota kelompok yang menerima bantuan sapi itu ada yang telah memiliki sapi lebih dari lima ekor. Juga, ada penerima yang
memiliki hubungan kekeluargaan diantaranya, bapak mantu, anak mantu padahal yang bersangkutan adalah pegawai dan memiliki banyak sapi. (yan)

Baca Juga :   Partai Golkar Malaka Siap Ikut Pilkada, Pendaftaran Tunggu Petunjuk Jakarta
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top