HUKUM & KRIMINAL

Dua Warga Timor Leste Ditemukan Tewas di Rudenim Atambua

ATAMBUA, Kilastimor.com-Dua Warga Negara Asing (WNA) asal Timor Leste, ditemukan tewas dalam kamar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Atambua, NTT, Jumat (4/9/2015) tadi pagi, sekira pukul 10.00 Wita.
Korban Julio Robert Corea tewas dengan kondisi gantung diri di pintu kamar, sementara Martha Mendoza (25) tewas terbaring di tempat tidur dalam kamar dengan kondisi luka memar pada bagian kepala dan berlumuran darah.

Tampak pihak kepolisian sedang mengevakuasi jenazah warga Timor Leste, tadi siang.

Tampak pihak Kepolisian Resor Belu sedang mengevakuasi jenazah warga Timor Leste, tadi siang.

Jasad kedua korban WNA itu ditemukan pertama kali oleh dua petugas Imigrasi bersama Ronaldo Sesarmento ayah Martha, serta pamanya Antonio da Silva, saat hendak menjemput keduanya untuk dibawa ke Kantor Imigrasi Atambua guna proses deportasi.

“Tadi pagi saya tunggu dikantor dan minta hadirkan anak saya untuk bicara maunya seperti apa, karena dia (Martha) masuk ke Indonesia tidak resmi, tapi kata imigrasi tidak bisa. Bersama dua petugas kami datang ke tempat ini. Pintunya terkunci dan dibuka petugas setelah itu saya panggil Martha, Martha, tapi tidak menyahut dan kami lihat sudah mati, laki-lakinya gantung diri dan anak saya terbaring di tempat tidur,” kisah Ronaldo.

Dia menuturkan, Martha anak ketiga dari 10 bersaudara dan sedang kuliah di UNPAS Dili, Semester III. Selama ini anaknya memiliki hubungan pacaran dengan Julio Robert Corea, namun hubungan kedua tidak disetujui keluarga Martha lantaran Julio telah memiliki istri.

“Laki-lakinya ada dokumen paspor, sementara anak saya tidak ada. Dia (Martha) masuk ke Indonesia tanggal 26 Agustus lalu, waktu itu dia menelpon bahwa dia ada di Indonesia ikut pacarnya. Setelah itu saya urus paspor lalu ke Atambua dan lapor ke Polisi anak saya dibawa lari. Polisi langsung amankan keduanya dan kemarin dilimpahkan ke Imigrasi untuk dideportasi, tapi hari ini keduanya sudah meninggal,” ujar dia.

“Laki-laki itu (Julio) seorang pendeta punya tiga istri. Saya bertemu dia terakhir di bulan Januari lalu. Saya kasih tahu ke anak saya, tapi dia tidak percaya,” tambah Ronaldo.

Sementara itu, pihak Imigrasi Atambua, Nugraha mengatakan, petugas Rudenim selalu lakukan pengecekan berkala, memang tidak ada petugas khusus, mengingat ruang detensi beda dengan kamar detensi. Sementara permintaan orang tua harus pisah kamar, tapi karena kondisi ruang detensi tidak ada kamar mandi, jadi kedua korban satu kamar.

“Kondisi seperti ini kita tunggu saja hasil otopsi seperti apa, apakah benar itu pembunuhan dilakukan oleh orang diluar atau bunuh diri. Kita tidak ada permintaan uang seperti yang dibilang, tapi itu sanksi sesuai aturan bagi yang tidak miliki dokumen,” pungkas dia. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top