EKONOMI

TNI Siap Kerja Sama Sukseskan Program Kelorisasi di Malaka

BETUN, Kilastimor.com-TNI siap membangun kerja sama untuk mengembangkan program kelorisasi di Malaka. Untuk sementara, TNI sudah bekerja dengan tiga kelompok tani di Kobalima untuk menanam 15 hektare kelor pada lahan masyarakat. Dalam waktu dekat TNI akan menyiapkan mesin pengering, guna mengeringkan hasil tanaman kelor yang ditanam supaya siap jual. Kalau hasilnya positif, maka TNI tetap membangun kerja sama dengan Pemkab Malaka untuk budidaya tanaman kelor.
Hal itu disampaikan Danrem 161 Wira Sakti Kupang, Brigjen TNI, Heri Wiranto kepada wartawan usai mengunjungi kebun percontohan penanaman Kelor di Desa Litamali-Kecamatan Kobalima-Kabupaten Malaka hari ini.

Tampak Danrem didampingi Asisten II Sekda Malaka memantau tanaman kelor di Betun.

Tampak Danrem didampingi Asisten II Sekda Malaka memantau tanaman kelor di Betun.

“Program kelorisasi yang dirintis TNI di wilayah perbatasan diharapkan dapat memberi manfaat yang baik dan hasilnya diharapkan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan. Ini baru tanaman percontohan dan tadi hasilnya cukup baik. Topografi di Malaka sangat cocok untuk budidaya kelor dan kualitasnya juga sangat bagus dan bisa masuk pasaran di Jawa,” bilangnya.

Untuk saat ini, pihaknya hanya membuat rumah pengeringan untuk mengeringkan hasil tanaman kelor. Masyarakat bisa mengambil manfaat dari tanaman daun kelor yang dikeringkan dan juga dari bijinya. Keuntungan budidaya tanaman kelor di Malaka yakni mudah tumbuh dan tidak membutuhkan perawatan khusus. “Harga setelah dikeringkan daunnya untuk saat ini Rp 20 ribu per kg . Kalau masyarakat sudah merasakan manfaatnya, maka mereka akan mengembangkan tanaman itu karena bisa memberikan nilai ekonomi. Apalagi tekstur tanah di Malaka sangat bagus untuk budidaya kelor. Masyarakat bisa memanfaatkan lahan tidur buat pengembangan tanaman ini kedepan. Budidaya kelor itu sudah pernah didiskusikan dengan Kementerian Kesehatan RI dan mereka sangat responsip membangun kerja sama,” timpalnya. “Kedepan kalau sarana pengeringan dan pengolahan sudah ada, maka kelor bisa di produksi di Malaka dan Menkes akan menerima hasil produksi dalam bentuk bubuk, sehingga dapat meningkatkan margin penjualan yang pada akhirnya menguntungkan petani kita di perbatasan RI-RDTL itu,” tandasnya. (oni)

Baca Juga :   Bupati Malaka Pantau Persiapan Pembangunan Stadion ETMC 2019
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top