POLITIK

VENNA: Pemimpin Belu Harus Kreatif dan Berhati Nurani Menuju Belu Sejahtera

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kampanye putaran pertama dengan dilalui Pasangan Calon Bupati/Wakil Bupati Belu, Ventje J.R. Abanit-Bona Bowe (VENNA).
Pada kampanye putaran pertama tersebut, paket Venna telah mengunjungi 12 Kecamatan terlebih beberapa kecamatan di daerah pegunungan dan berbatasan dengan Negara Timor Leste. Dari pengamatan paket VENNA, ternyata rakyat masih hidup jauh dari sejahtera.

VENNA

VENNA

Persoalan akan kebutuhan yang mendasar khusunya air masih menjadi masalah utama dan menyusul masalah listrik dan kuranngnya fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Hal ini telah di ketahui bersama dan berlansung sekian lama. Kondisi ini memang disadari adalah merupakan tugas berat pemerintah dengan kondisi keuangan daerah yang terbatas, namun semua ini harus dicarikan jalan keluarnya. Karena itu, Pemimpin Belu harus berpikir extra kreatif.

“Saya berharap pemimpin terpilih harus kreatif dan terlebih lebih mempunyai hati nuran. Coba bayangka kalau kita hidup seperti rakyat di kampung susah air, mau minum aja susah. Bagaimana kita mikir masalah kesehatan, gimana mau mikir tentang bercocok tanam dan beternak? Manusia aja susah minum, apalagi hewan ternak,“ Ujar Calon Bupati Belu, Ventje Jacobus Roman Abanit, SE.Akt, kepada media ini, Selasa hari ini.

Menurut ventje, pembangunan saat ini kurang terstruktur alias cenderung hanya bersifat tambal sulam dan sporadis. Bagaimana rakyat mau di suruh kerja kebun, kalau air buat minum aja sangat susah didapat. “Mau ke kebun perut lapar, kerja kebun peralatan kurang dan pupuk susah. Udah ada hasil kebun atau dapat hasil alam (Kacang Hijau, Kacang tanah dll) mau di jual bingung. Ditambah lagi jalan jelek dengan ongkos angkut yang sangat mahal, untuk sampai di kota. Sudah begitu harga di kuasai oleh kaum kapitalis, yang terus mencari keuntungan,” terangnya.

Baca Juga :   Pendamping Anggur Merah Desa Renrua Diduga Manfaatkan Dana untuk Cakades. Uduk: Info itu Tidak Benar

Banyak keluhan rakyat disampaikan kepada Paket VENNA. ”Kami minta ada koperasi atau badan usaha yang atur penyaluran hasil bumi karena kami kerja hasilnya tidak ada, jadi kami jadi malas kerja kebun,” demikian sejumlah keluhan masyarakat desa saat ditemui Paket VENNA.

Masalah pendidikan jelasnya, terimbas tingkat kehidupan atau kemiskinan yang membelit rakyat. Rakyat kurang uang untuk menyekolahkan anak anak, makanya tingkat putus sekolah SD ke SMP sangat tinggi. kemiskinan membuat rakyat mudah sakit dan jika sakit berobat juga menjadi cerita sedih akibat kurangnya fasilitss kesehatan.

Dikatakan, hal ini dinamakan “Rencana pembangunan manusia Belu menuju Sejahtera yang kurang terstruktur. “Saya meragukan angka laporan Pemda Belu via BPS BELU yang menyatakan angka kemiskinan sekitar 15 persen,” jelas Ventje yang merupakan jebolan Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta.

Suami dari Melva Junita Tambunan.ST itu melanjutkan, pembangunan pendidikan sendiri kurang fokus, ini dibuktikan banyak anak putus sekolah di tingkat SD. Jumlah Murid SD sekitar 31.000 dan ketika di data jumlah murid SMP hanya sekitar 9.600 siswa, ini artinya terdapat sekitar 20.000-an murid SD putus sekolah tidak lanjut ke SMP, dan pemerintah memang menyiapkan program Kejar paket A-B dan C. “Ini bukan solusi pembangunan pendidikan dan pengentasan kemiskinan. Kita harus mencari inti masalahnya apa? Pembangunan masyarakat berpendidikan harus jelas dan terarah dan ingat setiap rakyat punya hak mengeyam pendidikan dan di atur uandang undang dasar 1945,” tegasnya.

Baca Juga :   ISIS Hobi Telanjangi Perempuan Cantik

Ini akan Bom Waktu tenaga kerja pengangguran berpedidikan rendah, ini juga yang menyebabkan maraknya Human Trafficking, karena masyarakat tidak bisa menolak rayuan para calo tenaga kerja.

Pemerintah tambahnya, sudah selayaknya memfasilitasi dan meningkat program-program sektor pertanian dan perikanan yang menjadi basis dan tulang punggung perekonomian rakyat Belu. Mungkin sudah saatnya pemerintah harus lebih banyak melibatkan pihak swasta dan LSM untuk membantu peningkatan. Disamping itu program tepat sasaran juga harus di lakukan.
Data beberapa tahun terkakhir menunjukkan bahwa hasil pertanian adalah sangat minim dan juga hasil populasi ternak juga semakin terbatas. Semua ini telah menjadi catatan tersendiri dari team VENNA dan hal ini yang mendorong seorang Ventje J.R. Abanit menjadi semangat untuk memimpin Belu. “Saya akan segera mencari solusi dan berpikir kreatif dan akan menggunakan otak dan hati nurani saya, dalam mengurus Belu menuju BELU yang lebih sejahtera,” pungkasnya. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top