EKONOMI

PADMA: Pemerintah Wajib Realisasikan LSA CTKI di NTT

JAKARTA, Kilastimor.com-Tindak Pidana Penjualan Orang (TPPO) khususnya terhadap Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) dari NTT, mendapat Perhatian dari Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian(PADMA) Indonesia.

Paguyuban TKI

Direktur PADMA, Gabriel Goa dalam siaran persnya, yang diterima media ini Selasa lalu mengatakan, berlarut-larutnya penanganan darurat trafficking di NTT, membuktikan adanya pembiaran oleh negara terhadap pelanggaran HAM.

Dikatakan, PADMA sebagai lembaga yang ikut ambil bagian secara aktif dalam memberantas mafia trafficking di NTT, dan mendampingi aparat penegak hukum memproses secara hukum pelaku dan aktor intelektual atas TPPO, mendesak Presiden Jokowi dan Menaker, Hanif Dakiri untuk segera merealisasikan upaya pemberantasan TPPO.

PADMA katanya, mendesak Presiden dan Menaker, untuk segera merealisasikan Layanan Satu Atap (LSA) untuk pengurusan administrasi bagi CTKI asal NTT.
LSA perlu dibangun di Tambolaka, Sumba Barat Daya untuk pengurusan administrasi di Pulau Sumba. Kemudian LSA Kupang, untuk pelayanan CTKI di wilayah Timor, Rote Sabu (Tirosa) dan di Maumere, Sikka, untuk CTKI diwilayah Flores, Adonara dan Alor. “Kami minta LSA segera dibangun di Kupang, Tambolaka dan Maumere. LSA untuk meminimalisir adanya TPPO,” timpalnya.

Dia meminta pemerintah segera menangani darurat trafficking di NTT. Jangan sampai negara asing maupun lembaga internasional masuk terlibat di NTT, dan Indonesia dituding melanggar HAM, karena melakukan pembiaran atas darurat human trafficking di NTT.

Baca Juga :   Hebat...Warga Perbatasan Belu Buat Bantal Aroma Teraphy Berbahan Baku Sampah

Disebutkan, pihaknya telah bersurat kepada presiden dan Menaker, untuk segera mengambil tindakan, demi menyelamatkan warga khususnya CTKI asal NTT, agar tidak terus menerus menjadi korban pelaku kejahatan kemanusiaan. “Kami akan terus menuntut dan mengawal hal ini, sampai terealisir. LSA penting demi pelayanan dan perlindungan kepada CTKI agar tidak menjadi korban dari para pelaku dan aktor intelektual penjual manusia,” pungkasnya. (fed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top