RAGAM

Listrik dan Telekomunikasi Belum Teratasi di Perbatasan RI-Timor Leste

ATAMBUA, Kilastimor.com-Hingga saat ini masyarakat di perbatasan Kabupaten Belu, NTT, Indonesia dan Timor Leste, masih terdapat menghadapi beberapa masalah yang masih membelit, termasuk dirasakan aparat keamanan yang bertugas di perbatasan. Adapun masalah yang dihadapi antara lain, listrik dan jaringan telekomunikasi.
Demikian hal tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kabupaten Belu, Johanes Andes Prihatin saat dihubungi media ini, Selasa (19/02/2016) lalu di ruang kerjanya.

Johanes Andes Prihatin

Johanes Andes Prihatin

Menurut Prihatin, sesuai dengan data yang dimiliki pihaknya ada beberapa desa dari total 32 desa dalam Kabupaten Belu yang belum ada jaringan listrik, sehingga masih gelap. Selain itu juga masalah jaringan telkomsel karena masih ada yang roaming. “Masalah ini yang masih jadi kendala, karena itu banyak yang harus ditata sehingga desa di perbatasan Belu tidak gelap lagi dan tidak terkena roaming,” ujar dia.

Lanjut Andes, dari 19 pos TNI satgas yang ada di tapal batas yang masih terkena roaming ada pada 9 pos, akibat belum ada jaringan Telkomsel. Selain itu, soal jaringan listrik terus didorong dalam tahun ini, dan 12 pos sudah ada listrik, sementara sisa pos lain belum ada dan masih menggunakan genset.

Terkait hal itu, pihaknya telah kerja sama dengan pihak-piahk terkait untuk perluas jaringan listrik dan telekomunikasi ke desa perbatasan, sehingga kedua masalah tersebut segera teratasi. “Fokus kita selain membantu warga tapi juga bantu aparat keamanan Satgas pamtas di perbatasan agar mereka nyaman dengan adanya pelayanan tersebut,” ucap dia.

Baca Juga :   Alokasi Tunsus di Belu Salah Sasaran

Tambah Prihatin, di tahun 2016 pihaknya fokus dengan beberapa program lanjutan diantaranya program infrastruktur tentunya selalu berkoordinasi dengan semua sektor yang berada di tapal batas. Seperti jalan sabuk merah Mota’ain sampai Laktutus sepanjang 162 kilo meter yang menggunakan dana APBN.

Masih menurut dia, saat ini sepanjang 35,7 kilo meter untuk tiga ruas jalan sudah dibuka dan menghabiskan dana Rp 224 miliar, yakni ruas jalan yang menghubungkan Motaain-Salore, Salore-Haliwen dan Haliwen-Haekesak.

“Konsen di sabuk perbatasan tetap lanjutkan di sektor timur dan impian kita jalan yang hubungkan pos-pos satgas di perbatasan bisa segera terwujud. Dengan demikian akan ada jalan yang bagus maka akan ada pusat-pusat pertumbuhan di batas,” kata dia.

“Kita juga sedang usulkan satu zona untuk perdagangan, yang mana ada kawasan ekonomi khusus di pantai utara, jadi nanti ada semacam daerah-daerah khusus di perbatasan Belu,” sambung Andes. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top