HUKUM & KRIMINAL

Mediasi Ayus dan PT. Waskita Karya Oleh Polres Belu Gagal

ATAMBUA, Kilastimor.com-Upaya mediasi antara Ayus selaku sub kontraktor dengan PT. Waskita Karya yang dimotori Polres Belu dengan dipimpin Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Jefri Fanggidae tidak membuahkan hasil.

AKBP Dewa Putu Gede Artha

AKBP Dewa Putu Gede Artha

Pantauan media ini, upaya mediasi berlangsung di ruang Kasat Reskrim, Kamis (21/1), dihadiri Ayus bersama pihak PT. Waskita yang diwakili stafnya. Turut hadir pihak Satker Balai Jalan dan Jembatan Wilayah VIII Denpasar, Muhammad Edwin.

Kasat Jefri yang dikonfirmasi usai mediasi tersebut enggan memberikan komentar dan meminta awak media langsung konfirmasi ke Kapolres Belu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hasil dari pertemuan Ayus dan pihak PT. Waskita Karya itu tidak membuahkan hasil apa-apa, seperti yang dituntut Ayus terkait biaya ganti rugi yang digunakan dalam proyek jalan tersebut. Sementara itu dijanjikan mediasi akan dilaksanakan lagi pada hari Sabtu (23/1/2016) mendatang.

Ayus menyampaikan, dirinya sangat kecewa dengan hasil pertemuan dengan pihak PT. Waskita yang hanya mengutus stafnya sehingga tidak bisa membuat keputusan apa-apa.
Setiap pertemuan baik sekarang maupun sebelumnya, pimpinan pihak PT. Waskita Karya tidak pernah hadir.

Ayus berharap pada pertemuan berikutnya pihak PT. Waskita memiki kemauan baik untuk menyelesaikan kewajibannya dan membayar haknya sesuai kesepakatan awal dalam kontrak kerja.

Terpisah Kapolres Belu, AKBP Dewa Putu Gede Artha yang dikonfirmasi media mengatakan, PT. Waskita Karya bukannya tidak mau membayar hak dari sub kontraktor, Ayus yang pengerjaan ruas jalan Motaain-Salore-Haliwen. Tetapi pihak PT. Waskita ingin dilakukan perhitungan ulang volume pekerjaannya, baru bisa dilakukan pembayarannya.

Baca Juga :   Pemkot Kupang Teken MoU dengan Pemerintah Jepang

“Ayus sudah kita panggil begitu juga pihak Waskita, tapi keduanya berikan alasan yang berbeda. Sebenarnya Waskita bukan tidak mau bayar tetapi harus menghitung dulu volume pekerjaan yang harus jadi kewajibannya,” ujar dia.

Terkait tidak hadirnya pimpinan PT. Waskita selama dalam proses mediasi jelas Artha hal itu dikarenakan miskomunikasi saja. Pasalnya selama ini ketika dipanggil Polisi, pimpinan Waskita selalu berada di luar daerah sehingga yang hadir hanyalah staf yang bisa membuat keputusan.

Menurut Artha, untuk unsur pidananya belum ditemukan. Pasalnya hingga kini masih dalam proses pemeriksaan saksi-saksi yang lain untuk mengetahui unsur pidananya. “Masih butuh tambahan karena itu belum berani menyimpulkan keterangan dari saksi-saksi belum cukup,” ujar dia..

Lanjut Artha, mediasi yang dilakukan ini sesuai dengan isi perjanjian kerja yang telah disepakati sebelumnya oleh Ayus dan pihak PT. Waskita Karya. Dalam perjanjian itu ada syarat-syarat seperti syarat pembayaran hak dan kewajiban. Namun apabila tidak temukan hasilnya maka ada jalur-jalur yang bisa ditempuh.

“Kalau tidak ada kesepakatan kita teruskan dan jika ada unsur pidana akan diproses. Kalau ada wanprestasi silahkan digugat perdata,” tukas Artha. (yan)

Loading...
Loading...
To Top