RAGAM

Kekayaan Budaya Daerah Ngada Harus Dipertahankan

JAKARTA, Kilastimor.com-Kekayaan Budaya di NTT, terus tergerus era globalisasi. Padahal budaya merupakan kekayaan dam jadi diri masyarakat.
Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, Kementerian Pariwisata, Frans Teguh berbicara dalam sarasehan budaya nasional bertemakan integrasi pengembangan nilai-nilai Budaya Reba dan Tenun Ikat Ngada dalam Ekosistem Pariwisata yang digelar pada Minggu (31/1/2016) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, mengatakan, kekayaan budaya dari masing-masing daerah, termasuk Reba dan tenun ikat Ngada, NTT, Indonesia, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. Karena itu, kekayaan budaya dabn karya cipta taradisional seperti kain tenun, harus dipertahankan oleh segenap generasi.
“Kita jangan mau budaya yang menjadi akar dan jati diri kita tergerus. Kita harus pertahankan serta terus membudayakan kepada setiap generasi,” paparnya.

Foto bersama keluarga Ngada Jakarta dengan balutan kain tenun Ngada.

Foto bersama keluarga Ngada Jakarta dengan balutan kain tenun Ngada.

Pada kesempatan lain, Direktur Edukasi Badan Ekonomi Kreatif, Poppy Savitri yang berbicara dalam sarasehan budaya nasional menegaskan dengan sentuhan kreativitas tinggi, tenun ikat Ngada, NTT, dapat menjadi salah satu produk fesyen yang bernilai tambah tinggi, sehingga dapat berkontribusi terhadap industri kreatif Tanah Air. “Mari kita terus berkreasi untuk meningkatkan pendapatan dari industri kreatif, termasuk di NTT.

Pembicara yang dadir dalam sarasehan tersebut antara lain, Maria Mole, pelaku tenun ikat dari Bena, Ngada, Romo Norbert Labu, Pr, penulis buku Pakaian Adat Jati Diri Orang Ngadha, Pemerhati Budaya, Damianus Bilo, Antropolog dan pencinta sastra, Wieke Dwiharti dan Pater Hubert Muda SVD. (*/fed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top