HUKUM & KRIMINAL

Saksi Korban Tidak Hadir, Sidang Human Trafficking Ditunda

SOE, Kilastimor.com-Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi korban dalam kasus dugaan perdagangan orang atau human trafficking terpaksa ditunda, akibat ketidakhadiran saksi korban, Marlis Tefa (14).
Majelis hakim yang diketuai Asri, dengan hakim anggota Handi Kacaribu, dan Janttiani L. Naitasi, kemudian memutuskan untuk menunda sidang tersebut.
Sedangkan para terdakwa yang dihadirkan dipersidangan adalah Rongky Tfuakani, Armen Mamo dan Melkianus Olla. Ketika terdakwa tersebut didampingi oleh Penasihat Hukum, Nikolaus Tualaka.

Ilustasi Human Trafficking

Ilustasi Human Trafficking

Sementara JPU, Tri Manurung, yang dikonfirmasi di kantor Pengadilan Negeri SoE usai ditundanya sidang tersebut mengatakan, bahwa pihaknya sudah mengirimkan surat panggilan kepada Marlis Tefa untuk menghadiri sidang pada Selasa (23/2).

“Surat panggilan sudah kirimkan kepada para pihak yang memberikan keterangan hari in (Selasa 23/2 red), tapi gak tau kenapa tidak datang,” jelas Tri sembari mengatakan, akan memberikan surat panggilan kedua untuk menghadiri persidangan, Selasa 1 Maret 2016 mendatang.

Marlis Tefa yang dihubungi via telepon selularnya Selasa (23/2) mengaku bahwa surat panggilan untuk menghadiri sidang pada Selasa (23/2) tidak dia terima.
“Saya tidak dapat surat panggilan, sehingga saya tidak tau bahwa hari ini (Selasa 23/2-red) untuk memberikan keterangan di persidangan,” jelas Marlis.

Menurut Marlis jika ada surat panggilan, dia dengan senang hati memberikan keterangan yang sebenar-benarnya sesuai dengan apa yang dia alami mulai dari keberangkatannya dari kampungnya di Bonle’u hingga dia dipulangkan, karena paspor yang dimiliki merupakan paspor sebagai wisatawan.

Marlis Tefa (14) menguraikan keberangkatan dirinya bersama temannya Dina Mariani Fallo (16) yang hingga kini belum diketahui keberadaannya adalah, sekitar bulan April 2015 lalu dia dan Dina Tefa didatangi Melkianus Olla yang mengajak mereka untuk mencari kerja di Malaysia. Tanpa berpikir panjang karena didorong oleh ekonomi keluarga yang pas-pasan, Marlis Tefa dan Dina memutuskan untuk mengikuti ajakan Melkianus Olla dan meninggalkan bangku sekolah dimana Marlis Tefa kelas I SMP dan Dina Fallo tercatat sebagai siswi SMA kelas II.

Setelah ada kesepakatan dengan menggunakan sepeda motor Marlis Tefa dan Dina Fallo dibawa oleh Melkianus Olla dan Armen Mamo menuju Kapan Ibukota Kecamatan Mollo Utara. Setiba di Kapan dengan menggunakan mobil pick up milik Rongky Tfuakani Marlis dan Dina dibawa ke Kupang untuk selanjutnya oleh Rongky Tfuakani mengantar Marlis dan Dina ke CV. Vio-Vio Kencana Mandiri Kupang dan diterima oleh Direkturnya, Alex Massan.

Oleh Alex Massan demikian Marlis Tefa, diurus semua keperluan termasuk administrasi keberangkatan keduanya. Menurut Marlis, dia bersama Dina Fallo diantar langsung oleh Alex Massan ke Surabaya dan mereka diterima oleh salah satu agen di Surabaya yang memproses keberangkat mereka menuju Malaysia.

Oleh agen yang tidak diketahui Marlis, keduanya diproses keberangkatan ke Malaysia. Nasib sial menimpah Marlis, dia ditangkap oleh kepolisian diraja Malaysia karena ternyata paspor yang digunakan adalah paspor wisatawan bukan paspor pencari kerja dan akhirnya dia dipulangkan melalui KBRI yang berada di Kuala Lumpur Malaysia,

“Saya sempat kerja di restorant selama 2 dengan gaji 900 ringgit, lalu saya ditangkap dan disuruh pulang ke Indonesia.
Mengenai keberadaan Dina Fallo, Marlis mengaku tidak mengetahui karena keduanya berpisah ketika sudah tiba di Malaysia. (pap)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top