RAGAM

Penyebaran HIV/AIDS di Belu Sangat Tinggi. KPAD: Tercatat ada 729 Kasus

ATAMBUA, Kilastimor.com-Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Belu, Timor Barat, Perbatasan Indonesia dan Timor Leste sangat tinggi. Kondisi ini perlu diwaspadai semua pihak.
Demikian hal itu diutarakan Sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Belu, Manek Rofinus dalam rapat koordinasi bersama Wakil Bupati Belu serta instansi terkait di ruang kerja Wabup, Kamis (28/04/2016).

Wabup Belu sedang memimpin Rakor KPAD, Kamis pagi tadi.

Wabup Belu sedang memimpin Rakor KPAD, Kamis pagi tadi.

Menurut Manek, data yang dimiliki KPAD Belu tahun 2013 sejak berpisah dengan Kabupaten Malaka, total penderita penyakit mematikan itu sebanyak 729 kasus, yang tersebar di semua Kecamatan di Belu.
Adapun jumlah kasus HIV/AIDS berdasarkan wilayah Kecamatan diantaranya, Kecamatan Atambua Selatan 125 kasus, Atambua Barat 126, Kakuluk Mesak 100, Tasifeto Timur 95, Tasifeto Barat 84, Raihat 28, Lamaknen 22 kasus, Nanaet 12, Lasiolat 8, Raimanuk 9 dan Lamaknen Selatan 7 kasus.

“Ini data sejak tahun 2013 sampai 2016. Dari kasus-kasus ini 60% laki-laki dan 40% perempuan. Dari data ini diidentifikasi bahwa laki-laki mayoritas terkena kasus itu, dan perempuan terjangkiti,” ujar dia.

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah kasus HIV/AIDS di tahun 2016 menurun menjadi 38 kasus yang tersebar di kecamatan Kota Atambua 2 kasus, Atambua Selatan 4, Atambua Barat 8, Kakuluk Mesak 6, Lasiolat 0, Raimanuk 2, Raihat 0, Nanaet 1, Tasifeto Barat 6, Tasifeto Timur 6, Lamaknen 2 dan Lamaknen Selatan 1 kasus.

Baca Juga :   Organda Diminta Harus Bermitra dengan Pengusaha dan Pemerintah

Masih menurut Manek, selama ini KPAD telah melakukan sosialisasi ke beberapa desa dalam Kecamatan. Perlu diingatkan kondisi ini musti diwaspadai dan solusi yang perlu dibuat yakni melakukan penerangan kepada masyarakat secara besar-besaran.

“Masyarakat harus diberikan penerangan dan sosialisasi tentang penyakti HIV/AIDS, sehingga seluruh masyarakat memahaminya dan melawan penyakit mematikan itu demi generasi-generasi muda di wilayah Belu,” kata dia.

Diakuinya, pihak KPAD Belu masih mengalami kendala dimana anggaran operasionalnya sangat terbatas untuk satu tahun yakni hanya Rp 129 juta turun dari anggaran sebelumnya Rp 300 juta, sejak tahun 2004.
“Kendala kami kesulitan dana dan operasional, apalagi ini soal pelayanan kemanusian. Kami harap di tahun mendatang Pemkab dapat menaikan dana operasional bagi KPAD,” pinta Manek.

Wakil Bupati Ose Luan selaku Ketua Harian KPAD Kabupaten Belu mengatakan, dana yang ada pada KPAD saat ini sudah diplot di APBD dan tentunya tidak bisa dirubah lagi, sampai menunggu di tahun anggaran yang baru.

“Saat ini kita tidak bisa dananya, tapi kita akan upayakan di perubahan nanti dan di tahun 2017 kita usahan dana KPA Rp 129 juta akan dinaikan menjadi Rp 300 juta, sehingga bisa mendukung dan perlancar kegiatan operasional dalam berbagai bidang,” ucap dia.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Belu J.T Ose Luan menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap mewaspadai dengan persoalan kasus HIV/AIDS, di wilayah Kabupaten Belu.
“Virus HIV/AIDS ini harus diwaspadai terus,” ujar Ose dalam rapat koordinasi bersama intansi terkait soal kasus HIV/AIDS di ruang kerja, Kamis (28/04/2016).

Baca Juga :   Setelah Dibiarkan Tiga Tahun, Ruas Jalan Eltari Atambua Dikerjakan

Menurut Ketua Harian KPAD Belu itu, HIV/AIDS merupakan satu penyakit yang membuat generasi muda menjadi rusak atau hilang masa depannya bahkan hingga merenggut nyawa. “Virus HIV/AIDS ini sama dengan narkoba yang dapat merusak kehidupan para generasi masa depan,” ujar dia. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top