EKONOMI

Bupati TTU Minta Pempus Bangun Embung di Pulau Timor

KUPANG, Kilastimor.com-Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Sau Fernandes minta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dapat mengalokasi anggaran melalui APBN untuk bangun embung bagi kelompok tani di TTU.

Bupati TTU terima buku dari Plan Internasional Internasional.

Bupati TTU terima buku dari Plan Internasional Internasional.

“Harapan kami dengan berakhirnya program proyek YWEE yang didanai Uni Eropa dalam pendampingan bagi petani holtikultura, kiranya Bappenas dapat berperan untuk membangun embung guna memenuhi air bagi kelompok tani, karena kami telah menyiapkan lahan dan dana melalalui APBD untuk mendukung pola pertanian bagi kelompok tani di TTU,” kata Raymundus Sau Fernandes pada acara pada acara penutupan proyek pemberdayaan ekonomi kaum muda (Young Women Economy Empowerment/YWEE) di Hotel On The Rock, Senin (23/5) malam.

Menurut Fernandes, sesuai dengan program Pemerintah Kabupaten TTU cinta petani, maka telah dianggaran sebesar Rp 300 juta bagi kelompok tani yang ada didesa.

“Saya sudah meminta kepada kepala desa agar dana yang dialokasi tersebut lebih diprioritas bagi kelompok yang sudah dibina Plan Internasional Indonesia tersebut. Hal ini bertujuan untuk membantu mereka yang benar mau berusaha dalam mengembangkan pertanian untuk meningkatkan ekonomi mereka,” jelasnya.

Fernandes mengaku, dalam mendorong pertanian di pulau Timor terlebih khusus di TTU, terkendala pada air. Salah satu langkah dalam menjawab kebutuhan air maka perlu dibangun embung oleh Pempus melalui APBN yakni satu titik membutuhkan dana Rp 150 miliar dalam membangun 500 embung, guna menampung dan menjebak air air tanah.

Baca Juga :   Terkait Pengelolaan Dana Desa, Ose Luan: Jadilah Orang Jujur dan Terhormat

“Pekerjaan pertanian paling banyak serap tenaga kerja di pulai Timor, namun masih terkendala air,” ujarnya.

Fernandes menjelaskan, program Plan Internasional Indonesia lebih pada kesetaraan gender yakni dengan melakukan pendampingan untuk membuat perempuan muda di Timor mandiri melalui kelompok tani holtikultura. Ini hal yang bagus. Karena di TTU perempuan lebih produkstif dibanding laki-laki dalam memanfaatkan lahan pertanian maupun dalam usaha. Namun karena budaya partiaki sehingga perempuan terkadang tidak bisa berbuat lebih banyak.

Sementara itu, Research Directur, Eva Zhoriva Yusuf mengatakan, masalah yang dihadapi para kelompok tani yang didampingi oleh PLAN Internasional Indonesia, terkandala pada kebutuhan air dan modal. Dengan berakhirnya proyek YWEE yang didanai Uni Eropa dalam pendampingan bagi pentani holtikultura, peran pemerintah daerah dapat membantu kelompok tani holtikuturan tersebut.

“Proyek YWEE yang didanai Uni Eropa dalam pendampingan bagi pentani holtikultura sebanyak 3.000 anak muda, terutama perempuan berusia 15-29 tahun,” katanya. (ify)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top