RAGAM

Ini Alasan Warga Silawan Belu Tutup Jalan di Motaain Perbatasan RI-Timor Leste

ATAMBUA, Kilastimor.com-Program pembangunan perbatasan RI-RDTL di Motaain, menuai protes warga. Pemilik lahan menutup jalan simpang Mota’ain-Lakafehan tepatnya di Dusun Beilaka, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Timor Barat, Perbatasan antara Negara Indonesia dan Timor Leste.

Warga Silawan Tutup jalan dengan kayu.

Warga Silawan Tutup jalan dengan kayu.

Aksi blokade jalan dilakukan warga, Jumat (3/6/2016) siang dengan cara membentangkan membuat pagar. Hal ini terjadi lantaran tidak ada kejelasan ganti rugi lahan milik warga.

“Belum ada pembahasan ganti rugi lahan, karena itu kita tutup sementara sampai ada kejelasan dan proses pembayaran ganti rugi,” ucap Yosep Siriani.

Menurut Yosep selaku pemangku adat suku Manekiikkouhun, lahan yang dibebaskan untuk ruas jalan dua jalur kurang lebih 4 hektare yang terdiri dari lahan pribadi warga, juga lahan kawasan suku adat yang mana terdapat sumber mata air Sarobon, tapi masuk dalam pembebasan.

“Pengerjaan proyek pembukaan jalan ini dimulai sejak 12 Mei lalu. Kami pernah rapat dua kali, tapi hanya pertemuan biasa tidak ada pembahasan soal ganti rugi lahannya,” ujar dia.

Jelas Yosep, ruas jalan yang dibebaskan dari Dusun Beilaka menuju Dusun Mota’ain. Selain ditutupnya jalan dari arah Beilaka dirinya juga telah menutup jalan di Dusun Mota’ain dengan cara memagar, karena merupakan lahan milik pribadi.

“Informasinya akan ganti rugi lahan sebesar Rp 175 ribu permeter persegi, tapi sampai saat ini belum terlaksana. Apabila sudah ada kejelasan ganti rugi lahannya baru kami buka kembali jalannya,” papar Yosep.

Baca Juga :   Dana Pihak Ketiga di Bank NTT Tahun 2015 Capai Rp 7,2 Triliun

Senada, Leksianus Taek salah satu warga pemilik lahan menerangkan, lahan yang dibebaskan untuk pembukaan jalan dua jalur milik tujuh warga juga tanah suku. “Janji ganti rugi lahannya sampai saat ini belum ada, karena itu kami tutup sementara jalannya sampai menunggu ada kejelasan ganti ruginya,” ucap dia.

Kepala Desa Silawan, Ferdinandus M. Bili yang dikonfirmasi media terkait penutupan jalan mengatakan, masyarakat pemilik lahan menutup sementara jalan, karena menginginkan kejelasan ganti rugi pembebasan lahan. “Karena belum jelas makanya masyarakat tutup sementara, dengan tujuan meminta agar ganti rugi segera direalisasi,” kata dia.

Lanjut Mones, terkait hal itu besok pihaknya akan menggelar pertemuan dengan PPK, kontraktor dan satker bersama masyarakat untuk berikan penjelasan terkait ganti rugi lahan. Karena selama ini satker belum menjelaskan ke pemilik lahan sehingga warga belum mengetahui.

“Perkiraan biaya ganti rugi Rp 50 ribu permeter persegi. Informasi sementara dari Tatapem seperti itu, tapi nanti kita lihat jelasnya besok kesepakatannya berapa. Semua butuh proses, jadi warga pemilik lahan diminta untuk bersabar,” pungkas Mones.

Akibat aksi tersebut, aktivitas proyek pun terpaksa berhenti. Pembukaan jalan itu proyek Kementerian Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Pelaksana Jalan Nasional. Paket proyek rekontruksi jalan simpang Lakafehan-Mota’ain, menggunakan APBN dengan nilai kontrak Rp. 37.170.250.000. Pelaksana proyek PT. Bahagia Timor Mandiri. (yan)

Baca Juga :   Wawali Kupang Apresiasi Grebek Suro 2019
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top