EKONOMI

Catatan Refleksi Menuju Revolusi Pertanian Malaka (3). Penyuluh Harus Berkompetensi dan Tahu Panca Usaha Tani

BETUN, Kilastimor.com-Pekerjaan penyuluh biasanya bertautan langsung dengan kepentingan masyarakat petani. Penyuluh harus benar-benar paham dan memiliki kompetensi untuk mengetahui masalah teknis, manejemen, ekonomi dan masalah sosial yang ada pada petani.

Willybrodus Dua menjelaskan, masalah teknis yang harus dipahami betul penyuluh sangat bertautan dengan Panca Usaha Tani yakni pengolahan lahan, persiapan benih, pemupukan, pengairan dan pengendalian hama penyakit. Biasanya disebut Panca Usaha tani.
Dibidang pengolahan lahan kering, kebiasaan masyarakat kita dari dulu hingga sekarang dalam melakukan pengolahan lahan masih menggunakan sarana apa adanya sepeti alat pacul dan tofa. Ada dua alasan pokok yang sering mencuat. Pertama, Alasan klasik yang sering dikemukakan karena alat tidak ada atau uang tidak ada untuk mengelola lahan secara modern dengan menggunakan mekanisasi pertanian.

Panca Usaha Tani

Panca Usaha Tani

Alasan kedua, Tenaga kerja tidak ada untuk mengolah lahan. Tenaga kerja usia produktif kalau kita tanya di desa terkadang kepala desa tidak bisa menjawab secara pasti karena tidak ada data konkrit. Ini satu persoalan yang dihadapi dalam penataan kelompok tani di desa. Kita mau mengolah lahan tetapi apakah ada ketersediaan tenaga kerja produktif mengelola lahan itu setelah diolah?

Untuk saat ini pemerintah kecamatan dan desa serta petugas Pertanian sementara mendata luas lahan yang dimiliki petani. Dalam beberapa kasus kita cek ternyata banyak tenaga kerja produktif tidak berada di desa sehingga kita harus melakukan reorganisasi kelompok. Kelompok yang tinggal namanya saja karena orangnya tidak ada maka kita hapus nama kelompok itu. kenyataan di lapangan banyak lahan tidur masyarakat yang tidak digarap karena orangnya tidak berada di desa karena bekerja keluar daerah. Untuk itu tenaga kerja produktif harus diinventarisir karena berhubungan dengan lahan tidur yang mau diolah. Pentaan itu perlu dilakukan supaya lahan yang akan diolah pemerintah harus digarap dan tidak boleh terlantar.

Baca Juga :   Mobil Pikap yang Digunakan Sebagai Jasa Angkutan Perlu Mendapat Izin

Dalam konteks persiapan pengolahan lahan, medan dan tekstur tanah kita di Malaka Barat, terlihat rata dan dalam pengolahan lahan biasanya tidak dilengkapi saluran pembuangan air. Akibatnya banyak tanaman petani yang mati karena tidak ada pembuangan air yang memadai.

Solusi yang ditempuh, pada saat percetakan lahan, pencetak lahan harus mengerjakan juga saluran pemasukan dan pembuangan air. Penataan itu harus dialkukan sehingga memudahkan pengaturan air.
“Kita Jangan asal cetak lahan tetapi harus diukur oleh tenaga teknis pencetakan lahan untuk mengatur elevasi. Ini bukan pekerjaan penyuluh karena memang bukan ahlinya tetapi harus dilakukan petugas teknis percetakan lahan,” terang dia.

Contohnya di desa Haitimuk, pencetakan lahan disana gagal dan lahannya tidak dimanfaatkan petani karena tidak ada tenaga teknis yang harus bertanggung jawab untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran air untuk irigasi saat melakukan kegiatan pencetakan lahan. Sawah asal cetak tetapi tidak bisa dimanfaatkan petani karena tidak ada tenaga teknis pencetakan lahan yang bertugas melakukan hal itu. Tugas penyuluh pertanian adalah menyiapkan calon petani pencetakan lahan. Sementara untuk pencetakan lahan perlu ditangani tenaga teknis percetakan yang memiliki kompetensi, agar bisa mengetahui elevasi air agar saat pencetakan itu lahan yang ada bisa ditata rapi termasuk penyiapan salauran untuk pemasukan dan pengeluaran air.

Cetak lahan bukan hanya sekedar balik tanah dengan traktor atau membuat empang, tetapi harus dipertanggung jawabkan secara teknis . (bersambung)

Baca Juga :   Dana Desa untuk Seluruh Desa di NTT Rp 2.3 Triliun. Asintel Kejati: Mari Kawal Bersama
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top