RAGAM

Desa Asmanulea Siap Terima Program Air Bersih. Embung SMKN Asmanulea Bisa Dimanfaatkan

BETUN, Kilastimor.com-Sebanyak 1.036 dari 246 KK di Desa Asmanulea-Kecamatan Sasitamean siap menerima program air bersih, salah satu program proiritas yang dicanangkan Pemkab Malaka. Salah satu solusi menangani kesulitan air bersih di wilayah ini yakni melalui program jangka pendek, tangkinisasi dan program jangka panjang melalui program pengeboran air bersih dan pemanfaatan sumber air Asmanulea yang dikelola pemerintah. Hal itu disampaikan Kepala Desa Asmanulea, Gabriel Manek Lon kepada wartawan di Asmanulea, Minggu (10/7).

Embung

Embung SMKN Asmanulea

Solusi jangka pendek seperti yang dicanangkan Bupati dan wakil Bupati Malaka melalui temporary solution sangat pas untuk desa Asmanulea. Hampir 97 persen masyarakat desa Asmanuea memiliki tempat penampungan air hujan sehingga program jangka pendek pemerintah itu dapat langsung dieksekusi melalui program pengadaan air bersih melalui tangkinisasi yang diatur pemerintah.

Untuk program jangka panjang, pengadaan air bersih bisa dilaksanakan melalui program pengeboran air tanah pada dua titik di Dusun Lootnana dan dusun Kakases D. Pemerintah bisa melakukan survey terkait potensi air diwilayah itu. Peluangnya terbuka lebar karena dua titik itu sangat dekat dengan kali Bauteon sehingga potensi air bisa diharapkan. Kalau rencana pengeboran dua sumber mata air itu terealisasi maka bisa mengaliri 10 dusun di desa Asmanulea dalam ketersediaan air bersih.

Salah satu sumber mata air yang selama ini berpeluang dimanfaatkan memenuhi kebutuhan air bersih warga yakni memanfaatkan air Asmanulea yang ditarik dari bawah Balibo (diatas Nusimanu). Air itu pengerjaannya diprakarsai Romo Maxi Un Bria bersama pemda Belu namun sempat macet sekitar lima tahunan karena pengelolaannya dilakukan masyarakat yang kurang memahami persoalan teknis air dan mesin. Air itu baru berfungsi sejak 2015 lalu tetapi sempat macet tiga bulan baru beroperasi kembali. Debit air itu 8 liter/detik dan untuk mengalirkan air itu harus menggunakan mesin penyedot. Sampai saat ini warga sudah memasang meteran di rumah masing-masing namun pelayanannya sering macet karena kerusakan mesin penyedot dan lamban penanganan sehingga warga tetap kesulitan air.

Baca Juga :   Pesta St. Arnoldus Yansen, Unwira Kupang Gelar Misa

Salah satu solusi yang ditawarkan, pengelolaan air itu perlu dikelola pemerintah sehingga ada kerusakan bisa diintervensi melalui dana ADD atau APBD yang direncanakan pemerintah. Salah satu potensi air yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal yakni embung di SMK Asmanulea yang memiliki kedalaman air 15 meter. Embung itu sudah dilengkapi bak utama penampung air dengan kapasitas penampungan air 6000 liter namun tidak berfungsi karena tidak ada mesin penyedot air padahal sudah ada selang untuk mengalirkan air ke bak induk. Kalau air itu dimanfaatkan maka bisa melayani masyarakat dua dusun yang dekat lokasi embung itu. Selama ini masyarakat dua dusun di Asmanulea dan siswa SMK memanfaatkan air itu namun untuk mengambilnya mereka hanya memanfaatkan jergen lima literan untuk mengambil air di dalam embung.

Pemanfaatan air itu sementara digunakan masyarakat untuk MCK, penyiraman tanaman masyarakat dan kebutuhan siswa SMK. (boni)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top