HUKUM & KRIMINAL

Polisi Periksa Saksi Terkait Kasus Cetak Sawah Baru Fatuba’a

ATAMBUA, Kilastimor.com-Tim penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satuan Reskrim, Polres Belu memeriksa beberapa warga terkait dengan cetak sawah baru di Desa Fatuba’a, Tastim, Kabupaten Belu. Sejumlah warga itu diperiksa sebagai saksi atas dugaan korupsi itu.

Michael Ken Lingga

Michael Ken Lingga

Kapolres Belu, AKBP Michael Ken Lingga melalui Kasat Reskrim, IPTU Nyoman Gede Arya Triadi Putra yang dihubungi media ini, Rabu (10/8/2016) mengemukakan, tim penyidik telah memintai keterangan dari sejumlah warga terkait dengan persoalan cetak sawah baru Desa Fatuba’a, yang dilaporkan warga beberapa waktu lalu ke pihak Kepolisian.

“Ada sekira enam warga yang sudah kita minta keterangan sebagai saksi Selasa kemarin. Pengambilan keterangan berkaitan dengan laporan warga atas lahan cetak sawah di Fatuba’a,” ujar dia.

Sebelumnya, Mundus Tifa yang ditemui media Selasa (9/8) kemarin di Polres saat dikonfirmasi terkait hal tersebut mengemukakan, dirinya telah memberikan keterangan sebagai anggota kelompok tani.

Untuk diketahui dalam pemberitaan sebelumnya, tim penyidik tindak pidana korupsi (tipikor) tengah melakukan pengumpulan data (Puldata) dan pengumpulan bahan keterangan (Pulbaket) terkait laporan warga terhadap kasus cetak sawah baru di Desa Fatuba’a, Kecamatan Tastim.

Tim penyidik telah menerima laporan dari warga dan mendatangi lokasi cetak sawah tersebut. Tim juga telah mengambil keterangan dari beberapa warga anggota kelompok pada pekan lalu.

Warga juga telah memberikan bukti rencana usaha kerja (RUK) ke Polisi. Luas lahan cetak sawah 25 hektare terletak di dusun Taeksoruk yang merupakan program tahun 2012 lalu dengan dana sebesar Rp 250 juta yang bersumber dari APBN.

Baca Juga :   Lomba Lari JERIKO 5K dan 10K, 900 Peserta Mendaftar

Namun demikian, lahan tersebut tidak ada, cuman hanya dibersihkan saja tidak dibuatkan pematang sawah hingga dengan saat ini. Selain itu ada surat pernyataan lahan sawah 100 persen yang ditandatangani warga namun tandatangan tersebut dimanipulasi. Namun pada kenyataan lahannya kosong tidak ada pematang sawah.

Dalam RUK itu satu anggota kelompok memiliki 1 hektare lahan, namun kenyataan di lapangan hanya hitungan are, juga uang pematang, patok, pemeliharaan untuk anggota tidak ada dan tandatangan mengenai penerimaan uang juga dimanipulasi. (yan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top