RAGAM

Sonaf Bana TTU Patut Dicontoh karena jadi Sarana Pembangunan Nilai

KEFAMENANU, Kilastimor.com-Sonaf Bikomi yang terdiri atas Sonaf Plenat Usi Bana di Kefamenanu dan tiga sonaf lain masing-masing Sonaf Snak dan Klake di Kabupaten Timor Tengah Utara, bisa dijadikan contoh sebagai sarana membangun nilai-nilai religius, dan patut ditiru rumah adat di wilayah Keuskupan Atambua, karena mereka sudah berbuat dan mengusung nilai.

Mgr. Dominikus Saku, Pr

Mgr. Dominikus Saku, Pr

Dalam keberadaannya Sonaf Bikomi sudah berbuat sesuatu untuk kepentingan banyak orang. Mereka memiliki kuasa tetapi tidak mengambil kuasa untuk dirinya sendiri, namun diabdikan untuk kepentingan umum. Keberadaan sonaf seperti itu yang harus ditiru dan dikembangkan dimasa mendatang, agar bisa bermanfaat bagi banyak orang. Hal itu disampaikan Uskup Atambua, Mgr. Dr.Dominikus Pr kepada wartawan disela acara misa pemberkatan Sonaf Plenat Usi Bana di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Propinsi Nusa Tenggara Timur, belum lama ini.

Uskup Dominikus mengatakan sebenarnya Sonaf Bikomi , baik Sonaf Plenat Usi Bana dan tiga sonaf lain diantaranya snak, KLake sejak jaman dahulu sudah menunjukkan banyak nilai yang bisa dijadikan sarana pembelajaran kita semua. Dalam keberadaannya mereka membagikan tanahnya secara hibah untuk kepentingan pemerintahan dan gereja di Kabupaten TTU. Hampir semua paroki di TTU mendapatkan hibah dari dari sonaf Bikomi. Mereka belajar memberi dari apa yang ada pada mereka. Mereka memiliki kuasa tetapi tidak mengambil kuasa itu untuk dirinya sendiri tetapi membagi untuk kepentingan masyarakat banyak. Ini contoh kehidupan beriman dalam gereja yang patut ditiru sonaf dan rumah adat lainnya. Kita tidak boleh mengambil untuk diri sendiri tetapi harus membagi untuk orang banyak. Ini contoh yang baik terhadap pemerintahan. Mereka harus bermurah hati untuk membagi apa yang mereka harus bagikan kepada rakyatnya yang membutuhkan pertolongan . Sonaf Bikomi sudah memberikan contoh nilai yang sangat religius dan beriman kepada kita semua.

Baca Juga :   Ose Luan: Lucu...Ada yang Klaim Bangun Politeknik Ben Mboi di Belu

Menurut Uskup Dominikus ada beberapa hal yang patut didiskusikan terkait pemugaran rumah adat (sonaf) Plenat Usi Bana dan misa syukur yang dilaksanakan Sonaf Bana. Pertama, Misa syukur itu bernuansa sangat mempersatukan dan mengintegrasikan banyak hal. Hal kepemerintahan, hal agama, hal moral dan hal kekeluargaan karena dari keluarga diwariskan nilai-nilai. Seruan kita bagi keluarga-keluarga supaya belajar banyak hal bagaimana mendidik putra/i mereka, belajar bagaimana membuka keluarga itu untuk kebersamaan dalam masyarakat, belajar mengembangkan nilai-nilai kekeluargaan yang sekarang sangat luntur. Kedua, Ini kesempatan mempersatukan banyak pihak . Keluarga yang jauh datang dan bisa menemuka asal usul kehidupan mereka dan menemukan sumber dimana mereka bisa menimba banyak inspirasi. Ketiga, Ini kegiatan yang bernuansa budaya , mengembangkan budaya setempat karena disitu ada ada tarian yang bernuansa sangat adat, tradisoional, Penyambutan dengan bahasa adat, tarian adat, lagu bermotif adat dan pentas budaya. Kebersamaan ini melatih Keluarga untuk berpikir secara teratur melalui sambutan-sambutan keluarga bisa merangkai kehidupannya menjadi sebuah cerita dan pengungkapan yang direfleksikan bersama.

Menurut Uskup Dominikus, harapan dari gereja terkait peristiwa ini. Pertama, pengembangan nilai, banyak kekaburan nilai bagi generasi muda yang banyak kali tidak berakar dalam ikatan keluarga yang ketat. Mereka kehilangan nilai , gampang terpengaruh oleh banyak terpaan luar dan lupa akar kehidupan mereka. Kita belajar mengapreasi nilai yang sudah ada.

Baca Juga :   Terbatas Fasilitas, SMA Kristen Boking Raih Penghargaan dari Mendikbud

Kedua, kesempatan kita membenahi banyak hal. Adat istiadat di Timor bisa membuka nilai tetapi bisa menjadi belenggu untuk kemajuan masyarakat. Contoh kecil saja, ada tatanan adat istiadat yang sering kali tidak membantu pengembangan masyarakat. Terkadang adat istiadat sering membelenggu kehidupan masyarakat Misalnya belis yang urusannya sering tidak selesai karena tidak pernah jelas. Jadi bukan soal mahalnya. Sering yang terjadi orang jual mahal karena gengsi. Itu dibuat-buat seloah ada nilai padahal tidak. Urusan adat sebetulnya sangat sederhana. Urusannya banyak tidak selesai karena banyak orang sering suka jual mahal dan tragisnya dilakukan mereka yang bukan pemangku adat tetapi dilakukan mereka yang mengaku adat-adatan. Mereka sering pasang tarif tinggi untuk belis, dibuat seolah nilai padahal tidak ada nilai apa-apa sehingga sangat membingungkan masyarakat. Masyarakat yang sering datang mengurus adat mengetahui bahwa urusan seperti itu sering menimbulkan konflik antar keluarga. Kondisi seperti itu sering menjadi konflik antar keluarga yang harus dibenahi . Kita didalam gereja sering menghadapi hal seperti itu. Pernikahan sering menjadi tertunda karena urusan seperti itu. Kita mau berkat nikah tetapi kita akan memasukkan pasangan itu kedalam kesulitan besar karena beban belis akan ditanggungkan kepada mereka. Kalau urusan belis itu tidak selesai maka akan diwariskan kepada turunan mereka. Gereja sangat prihatin dengan kondisi itu. Solusinya, kita harus kembali ke yang asli dan tidak memberatkan orang . Adat di TTU sebetulnya tidak sulit dan sangat sederhana tetapi terkadang ditambah-tambahi sehingga memberatkan orang lain. Kita harus memiliki kemauan bersama dan komintmen yang kuat untuk membuat perubahan mendasar terkait persoalan diatas. (boni)

Baca Juga :   Bere: Berkinerja Buruk, Pejabat Berpeluang Non Job
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top