POLITIK

Ekonomi Masyarakat NTT Meningkat, Ketergantungan pada DAU/DAK Menurun

MAUMERE, Kilastimor.com-Ketergantungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota di NTT, kepada pemerintah pusat sangat tinggi. Hingga kini belum ada satu daerah di NTT, yang bisa menghidupkan dirinya sendiri.
“PAD kita kecil dan kita hidup dari DAU dan DAK. Kita seolah-olah tidak punya daya tawar. Padahal kita memiliki potensi yang luar biasa banyak,” bilang Benny K. Harman (BKD) dalam pertemuan dengan jejaring Maumere, Sikka, Minggu (11/9) lalu.

Benny K. Harman

Benny K. Harman

BKH menguraikan, sebetunya membangun NTT tidak susah uang. Pemerintah hanya perlu menggerakkan dan membangkitkan ekonomi di NTT saja. Simple kan? Semua bergantung pada uang, inovasi pemerintahan dan kemampuan untuk melaksanakan imajinasi solutif serta kesiapan masyarakat terhadap perubahan.

“Uang tidak semata-mata dari pusat, melalui DAU/DAK.Uang itu sudah banyak ada di dan dari daerah. Kita hanya ditantang bagaimana potensi yang luar biasa di NTT ini menjadi uang. Kita bukan daerah miskin. Kita harus bangga dan bersyukur karena kekayaan yang diberikan oleh alam NTT. Tetapi apa yang bisa kita lakukan,” tutur Benny dalam pertanyaan reflektif.

Menurut Benny, untuk mendapatkan uang, maka jalan yang perlu dan penting adalah bagaimana menggerakan masyarakat untuk membangkitkan potensi-potensi yang ada di NTT ini.

“Pariwisata harus digerakkan secara maksimal. Komodo di Manggarai Barat, Danau Tiga Warna Kelimutu di Ende, ikan paus di Lembata adalah contoh aset wisata yang mendunia dan aset wisata lainnya yang harus dikemas dengan lebih modern dari aspek pengelolaan/manajemen. Persoalan kita bukan berapa aset wisata yang kita punya, tetapi bagaimana kemampuan manajemen menata dan mengelola semua aset ini menjadi uang dan memberikan dampak buat masyarakat,” jelas Benny.

Baca Juga :   Save the Children Perkuat PAUD dan Pendidikan Dasar di Malaka

Selain itu, tambah Benny, laut, peternakan dan pertanian merupakan garapan yang wajib hukumnya mendapatkan prioritas dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di wilayah NTT.

“Dari cerita teman-teman yang suka kuliner di penjuru republik ini, mereka mengatakan bahwa ikan dari laut NTT adalah ikan yang paling enak kalau dimakan,” cerita BKH.

Karena itu menurut BKH, hanya perlu bergerak bersama agar semua hadiah alam ini seperti ikan, sapi, jagung, sayuran atau palawija lainnya tidak merasa disia-siakan. “Kalo semua ini bisa dilakukan, kita bisa menuntup minusnya budget yang diperoleh dari pusat untuk kebutuhan pembangunan kita di NTT ini”, sebut BKH optimis.

BKH menegaskan, semua persoalan dan masalah sangat bergantung kepada imaginasi setiap orang untuk melihat dan menyelesaikannya. “Semua orang bisa mengetahui masalah yang ada di NTT. Yang beda adalah cara melihat masalah, cara menyelesaikan masalah dengan menawarkan solusi-solusi dan keseriusan melaksanakan solusi itum,” tegasnya.

NTT ini sergahnya, harus dibangun dengan sungguh-sungguh. Untuk membangunnya, harus dimulai dari rakyat NTT memilih pemimpinnya. Memilih pemimpin adalah salah satu jalan untuk menyelesaikan masalah bersama.

Dia berpandangan, hal yang paling penting dalam merencanakan perubahan di NTT adalah sama-sama bangkit untuk menyelesaikan masalah dan sama-sama siap untuk menerima perubahan. Jika calon pemimpin mengajak untuk bangkit dari bentangan masalah yang ada, kita perlu berpartisipasi aktif dan terlibat dalam gerakan yang dimulai.

Baca Juga :   Bupati Mella: PT. SMR Harus Beri Kesempatan Kepada Buruh untuk Beribadah Pada Hari Minggu

“Saya tidak pernah kecewa kalau gagal, paling kesempatan saya untuk membangun NTT hilang. Mengapa? Maju dalam perhelatan politik di NTT ini tidak gampang, costnya mahal. Karena itu, perubahan yang diharapkan harus menjadi gerakan bersama. Menjadi kebutuhan kolektif, imajinasi kolektif, mimpi kolektif. Celaka kalau kita tidak mempunyai imajinasi tentang NTT ini,” terang politisi Demokrat itu.

Benny melanjutkan dengan meminjam sebuah pepatah kuno yang mengatakan, lebih baik menjadi singa untuk satu malam dari pada menjadi domba untuk sejuta tahun. Demikian sindirian Benny untuk pejabat yang lama menduduki kekuasaan, tapi tidak memberikan dampak dalam derap pembangunan. (fed)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top