HUKUM & KRIMINAL

Berpegang pada Hasil Autopsi, Keluarga Iyek Tolak Rekonstruksi Polres Sumba Barat

TAMBOLAKA, Kilastimor.com-Rekonstruksi lakalantas yang menyebabkan Iyek Nanda Saputra meninggal dunia, pada Jumat (14/10) lalu oleh Polres Sumba Barat ditolak keluarga korban. Keluarga menilai proses rekonstruksi penuh kejanggalan dan bertentangan dengan hasil autopsi yang dikeluarkan oleh pihak Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Sanglah, Denpasar, 2 September 2014 lalu.

Rekonstruksi lakalantas yang menyebabkan Iyek tewas.

Polres Sumba Barat rekonstruksi lakalantas yang menyebabkan Iyek Nanda Saputra tewas.

Hadijah Usman, ibu kandung Iyek Nanda Saputra mengungkapkan, mngikuti seluruh proses olah TKP, selaku keluarga korban tetap menolak apapun hasil rekonstruksi. Ada banyak kejanggalan yang mengaburkan fakta sebenarnya. Hanya dua orang saksi yang hadir dari tujuh orang saksi yang terlibat dalam kasus kematian anaknya.

Dalam proses rekonstruksi, dua orang saksi tersebut malah tidak mengetahui secara pasti sebab kematian anaknya, sementara menurut polisi karena lakalantas. Keduanya hanya terlibat menolong almarhum Iyek ke rumah sakit dan menolong dua orang saksi yang celaka akibat diserempet. Mengapa hanya dua orang saksi saja yang hadir dalam rekonstruksi sementara saksi yang lain malah diperankan oleh anggota kepolisian yang jelas tidak mengetahui persis kejadiannya. Ini aneh.

“Proses rekonstruksi tidak sesuai dengan kejadiaan yang sebenarnya. Keterangan kedua saksi yang tidak mengetahui kejadian, jelas tidak dapat dijadikan bukti hukum. Kami tetap percaya dengan hasil autopsi sebagai bukti hukum untuk proses selanjutnya,” ungkap Hadijah Usman.

Baca Juga :   Kadis PU Malaka Jangan Main Pending Anggaran Pembangunan Bronjong di Leunklot

Untuk diketahui, rekonstruksi ini baru dilakukan oleh Polres Sumba Barat sejak peristiwa kematian Iyek pada 22 Januari 2014 yang terjadi di jalan raya jurusan Weetebula Kodi, Desa Ranggo Roko, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Sebelum rekonstruksi ini digelar, pihak kepolisian mengatakan kalau korban meninggal karena lakalantas tunggal.

Usai rekonstruksi, Kapolres Sumba Barat, AKBP Muhamad Erwin mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mengungkap kasus ini secara benar apakah kasus ini murni lakalantas atau kasus pidana penganiayaan sesuai hasil autopsi.

“Autopsi dilakukan oleh saksi ahli dalam hal ini dokter yang tidak melihat langsung kejadian tersebut, sehingga tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa bahwa kasus ini sebagai penganiayaan. Dokter mengatakan lebam disebabkan oleh benda tumpul. Itu bukan mengatakan karena dianiaya karena dokter tidak melihat langsung,” bilang Erwin. (mon)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top