RAGAM

Bupati Belu Buka Konferensi Perempuan Timor. Lay: Keterbatasan Akses Membuat Perempuan Terus Tertinggal

ATAMBUA, Kilastimor.com-Bupati Belu, Willybrodus Lay resmi membuka kegiatan Konferensi Perempuan Timor di Gedung Betelalenok, Kabupaten Belu, Timor Barat, Perbatasan Indonesia dan Timor Leste, Senin (17/10/2016).
Kegiatan dengan topik “Membangun Solidaritas Perempuan Timor dalam Mengakhiri Pemiskinan Perempuan” kerjasama Mitra Mampu dalam rangka memperingati Hari Internasional Anti Kemiskinan itu, berlangsung dua hari yakni 17-18 Oktober.

Bupati Belu bukan Konferensi Perempuan Timor di Atambua.

Bupati Belu bukan Konferensi Perempuan Timor di Atambua.

“Kita apresiasi dan mendukung kegiatan Konferensi Perempuan Timor untuk penanggulangan kemiskinan. Acara ini mempunyai makna yang sangat dalam, dan ini membangun kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap masalah kemiskinan perempuan,” ujar Lay saat membacakan sambutan Gubernur NTT.

Berbicara mengenai konsep perempuan dan pengambilan keputusan akan sangat berbeda dengan berbicara mengenai konsep perempuan dalam kemiskinan dan pengambilan keputusan. Persoalan perempuan miskin tidak hanya terkait dengan ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga ketidaksetaraan relasi kekuasaan antara kelompok miskin dan kelompok lebih kuat.

“Bagi perempuan, persoalan kemiskinan secara ekonomi seringkali meminggirkan persoalan-persoalan gender, menjadi sesuatu yang dinilai wajar, karena ada beban-beban persoalan yg dianggap lebih berat yaitu kemiskinan itu sendiri,” ujar Lay.

Menurut dia, proses kapitalisasi yang masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat telah membebani kelompok miskin, yang sejak semula memang hampir tidak memiliki posisi tawar. Bagi perempuan miskin persoalan kemiskinan menjadi lebih berat karena persoalan posisi tawar tidak hanya dirasakan dalam ruang domestiknya, tetapi juga di ruang publik.

Baca Juga :   Menang Telak 5-0, Fajar Timur U-23 FC Lolos ke Final

Masih menurut Lay, dalam isu gender dan kemiskinan, rumah tangga merupakan salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan. Ketidaksetaraan dalam alokasi sumber daya dalam rumah tangga, memperlihatkan laki laki dan perempuan mengalami bentuk kemiskinan yang berbeda.

Pages: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top