HUKUM & KRIMINAL

Balthasar: Saya Tidak Bunuh Ponakan Hilarius Luan

BETUN, Kilastimor.com-Balthasar Taek Asa warga Dusun Harekain-Desa Builaran-Kecamatan Sasitamean ketika dikonfirmasi wartawan disela pelaksanaan rekonstruksi kasus kecelakaan ranmor di Jembatan Benenain, desa Haitimuk-Kecamatan Weliman, Kamis (3/11) mengaku tidak membunuh keponakannya, Hilarius Luan yang merupakan staf KPU Malaka.

Rekonstruksi lakalantas.

Rekonstruksi lakalantas.

“Saya tidak mungkin membunuh ponakan saya sendiri, apa lagi hubungan kami bersama almarhum dan keluarga besar di Motaulun selama ini baik-baik saja dan tidak bermasalah. Saya bersumpah tidak membunuh ponakan Hila Luan. Kalau saya bohong biar dikutuk Tuhan dan disambar petir dalam tahun ini,” ujarnya.

Hila Luan papar dia, merupakan keponakan kandungnya. Bagaimana dirinya bisa membunuh dia. Selama ini hubungan baik-baik saja dan tidak bermasalah.

Pada hari naas kematian almarhum, urai dia, dirinya memang datang ke rumah almarhum dan diterima baik disana. Pihaknya sempat makan bersama almarhum. Kedatangannya kesana untuk kunjungan keluarga seperti biasanya.

Setelah makan pagi tambahnya, dia mendengar bahwa almarhum akan ke Betun untuk sesuatu urusan, sehinga saat itu dirinya sekalian pamit pulang ke Harekain. “Kami bersama-sama keluar rumah menuju arah Betun tetapi ditengah perjalanan saya berhenti sejenak di Belukar untuk buang air kecil. Saat itu almarhum tidak berhenti tetapi tetap melanjutkan perjalanan menuju Betun. Setelah buang air kecil saya menyusul almarhum menuju arah Betun. Namun sampai di Jembatan Benenain saya lihat ada kerumunan orang dan setelah saya amati dan lihat ternyata ponakanku Hila Luan mengalami kecelakaan dan terjatuh kedalam kali Benenain,” sambungnya.

Baca Juga :   Lay: Pelayanan Kesehatan di Belu Masih Jauh dari Indeks Nasional

Karena peristiwa itu, dia memutuskan kembali ke keluarga di Motaulun menyampaikan peristiwa naas itu. “Sampai di TKP saya juga ikut mengantar almarhum ke RSPP Betun hingga di kamar jenazah. Waktu antar pulang jenasah korban ke rumah duka juga saya ikut mengantar. Karena almarhum itu ponakan kandung saya, maka saya pulang ke Harekain menyampaikan peristiwa naas itu kepada keluarga. Di Harekain kami sempat duduk adat sesuai tradisi adat disana untuk kumpul uang sebanyak Rp 250 ribu per KK,” timpalnya.

Dia menegaskan bahwa dirinya tidak membunuh apalagi otak untuk membunuh ponakan sendiri. Itu tidak benar dan tuduhan yang tidak mendasar. Selama ini hubungan dengan keluarga di Motaulun baik-baik saja dan tidak ada masalah. “Yah…. saya bisa memahami kecurigaan keluarga seperti itu karena merasa kehilangan suami dan ayah tercinta. Dia itu ponakan saya yang baik sehingga tidak mungkin saya sebagai omnya membunuh kembali ponakan sendiri. Keluarga kami di Faruaruin adalah keluarga baik baik dan bukan berasal dari turunan pembunuh apalagi membunuh keponakan sendiri,” tuntas dia. (boni)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top