HUKUM & KRIMINAL

Rekonstruksi Kematian Hilarius Luan Nyaris Ricuh

BETUN, Kilastimor.com-Proses rekonstruksi kematian staf KPU Malaka, Hilarius Luan di Jembatan Benenain-Haitaimuk-Kecamatan Weliman oleh aparat penyidik Satlantas Polres Belu yang dihadiri tersangka Hendrikus Nahak, warga Bestaek desa Umalawain serta paman kandung korban, Balthasar Taek di jembatan Benenain-Haitimuk nyaris Ricuh.
Pasalnya, istri korban, Romana Hoar bersama anak kandung korban Eki Luan tidak menerima ‎rekonstruksi tersebut, karena diduga kuat sebagai kasus pembunuhan bukan lakalantas.

Rekonstruksi lakalantas yang merenggut nyawa Hilarius Luan.

Rekonstruksi lakalantas yang merenggut nyawa Hilarius Luan.

“Kami minta supaya polisi mengusut tuntas kasus itu karena peristiwa kematian itu bukan kecelakaan murni tetapi diduga dibunuh melalui perencanan yang matang. Kita minta supaya aparat polisi mengusut kasus itu hingga tuntas dan menghukum semua pelaku yang terlibat,” tegas Romana Hoar dan Eki Luan kepada wartawan disela acara rekonstruksi kasus laka lantas yang mengakibatkan kematian Hila Luan di Jembatan Benenain di Haitimuk, Kamis (3/11)

Romana Hoar kepada wartawan mengatakan pihaknya melihat ada kejanggalan terkait proses kematian suaminya. “Hari itu sebetulnya suami saya tidak ke Betun, karena ada kematian tetapi karena atas permintaan om kandungnya, Balthasar Taek Asa maka mereka terpaksa ke Betun, untuk sesuatu urusan penting. Saya curiga karena Balthasar Taek saart itu seolah memaksa Hila Luan suami saya ke Betun padahal ada kematian di Kampung. Hanya dalam waktu kurang lebih 30 menit, Baltasar Taek datang menyampaikan lagi di rumah bahwa Hila Luan sudah meninggal karena kecelakaan kendaraan bermotor,” sebutnya.

Baca Juga :   Yustinus Loko Bau Camat Lamaknen Selatan. Ose Luan: Mengabdi dan Melayani Dengan Tulus

Sementara itu anak kandung korban, Eki Luan dengan nada lantang berteriak bahwa ayah kandungnya dibunuh.

“Saya tidak terima karena ayah saya mati tidak wajar. Saya curiga kuat ayah kandung saya dibunuh dengan cara kecelakaan motor. Saya curiga karena malam sebelum kematian, tersangka Endik Nahak warga Bestaek pada pukul 4.00 subuh menelpon ayah saya dan waktu itu telponnya diterima adik kandung saya. Disaksikan adiknya, korban menjawab telpon Endik dan sesuai hasil pembicaraan itu Endik meminta ayah saya untuk pagi hari ke Betun entah untuk urusan apa. Waktu itu Hendrikus Nahak minta kepada ayah saya untuk bertemu di jembatan Benenain baru bersama ke Betun. Saat telpon ayah saya keberatan karena di kampung ada kematian, tetapi Hendrikus tetap memaksa untuk bertemu dan bersama ke Betun entah untuk urusan apa. Semua pembicaraan subuh itu adik saya mendengar semuanya dan sangat aneh karena di Jembatan Benenain ayah saya mengalami kecelakaan dan justru dilakukan tersangka Hendrik Nahak sendiri. Kami dari keluarga tidak terima karena ada kejanggalan dalam peristiwa kematian ayah kami,” tegasnya.

Dia menambahkan, dirinya bersama keluarga juga curiga dengan kehadiran Balthasar Taek Asa warga dusun Harekain-Desa Builaran-Kecamatan Sasitamean, yang pagi itu datang ke rumah dan meminta ayah untuk bersama ke Betun katanya untuk sesuatu urusan penting. “Waktu itu ayah saya menolak pergi karena ada kematian di Kampung tetapi Om Bala tetap memaksa ayah harus ke Betun. Setelah makan pagi mereka keluar. Dan pergi bersama menuju Betun. Kurang lebih 30 menit keluar rumah om Balthasar Taek datang lagi ke rumah menyampaikan bahwa ayah sudah meninggal karena kecelakaan motor,” urai dia.

Baca Juga :   Pemda Belu Bebaskan Retribusi kepada Pedagang di Pasar Baru Atambua dan Pasar Tradisional

“Kami curiga Bala Taek Asa terlibat karena. Waktu keluar dari rumah bersama-sama tetapi anehnya saat ayah celaka katanya dia tidak tahu. Kami lebih curiga lagi karena setelah ayah meninggal sampai dimakamkan Bala Taek Asa tidak datang di rumah duka padahal yang meninggal adalah ponaan kandung Bala Taek. Ini ada apa sebetulnya,” tanya dia.

Dengan kronologis kejadian ini, pihaknya meminta aparat penyidik polres Belu untuk mengusut tuntas peristiwa kematian ayahnya. Keluarga besar melihat ada hal-hal yang tidak wajar dalam proses kematian ayah kami. “Kami dari keluarga minta supaya hukum ditegakkan dan jangan ada kompromi-kompromi hukum. Yang bersalah harus diusut demi keadilan dan penegakan supremasi hukum di negeri ini,” tutup dia. (boni)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top