EKONOMI

Malaka Pasti Sukses Bila Kembangkan Agribisnis

BETUN, Kilastimor.com-Kabupaten Malaka berpeluang besar dan dipastkan sukses mengembangkan usaha-usaha dibidang agribisnis. Kata kuncinya, rantai pemasaran dari hulu hingga hilir harus ditangani secara baik dan tuntas sehingga usaha itu tetap eksis dan berkesinambungan. Hal itu disampaikan Tim Ahli RPM Malaka, Prof, Ir. Ricky Gimin, MSc.Phd kepada wartawan usai mendampingi petani mengunjungi sentra produksi bandeng di Kabupaten Pati-Propinsi Jawa Tengah, Kamis (7/12/2016).

Peserta stuba sedang melihat tambak pengembangan ikan bandeng.

Peserta stuba sedang melihat tambak pengembangan ikan bandeng.

‎Prof Ricky mengatakan, keyakinannya karena berbagai potensi yang dimiliki di Malaka bisa dipastikan akan memproduksi secara berkesinambungan sesuai permintaan pasar. Malaka kaya akan sumber daya, namun perlu ditangani secara konprehensif agar bernilai dan bermanfaat bagi daerah itu.

Dalam urusan produksi hasil pertanian, peternakan dan perikanan katanya, harus mulai bergeser dari pola produksi untuk kepentingan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi sebagai tabungan dan investasi jangka panjang. Hal itu sejak dini harus dikenalkan kepada generasi muda. Sejak dini, teknologi cabut duri bandeng hanya bisa dilakukan oleh orang muda, karena tangannya masih lentur dan matanya masih muda. Dengan teknologi itu bisa meningkatkan harga jual ikan bandeng tiga kali lipat dari harga bandeng segar.
“Pak Sugito yang berusaha dibidang pengolahan ikan bandeng di Pati tadi mengatakan sanggup memberikan training kepada kita tentang teknologinya dan paling lama tiga hari sudah bisa membersihkan bandeng tanpa duri,” terangnya.

Baca Juga :   Wabup Kupang: TMMD Solusi bagi Daerah dalam Percepatan Pembangunan

Terkait pengembangan agribisnisnya, pasar modern di Kupang ternyata produk krupuk dengan bahan baku ikan bandeng masih didatangkan dari luar NTT, padahal bahan baku sangat berlimpah. Faktanya, kita semuanya pada beli produksi kerupuk itu padahal bahan bakunya ada. “Jangan sampai satu saat orang Malaka sebagai salah satu daerah pemasok pisang terbear di pulau Timor, beli kembali pisang molen dari daerah lain. Lantas pertanyaannya kenapa kita tidak bisa buat sendiri? Kalau kita beli dari orang luar maka uang kita akan berpindah ke daerah orang. Harusnya uang itu tetap ada dan berputar di Malaka. Konsep kita harusnya kita menarik sebanyak mungkin uang dari luar karena kita memiliki potensi bahan baku yang melimpah,” ungkapnya.

Bila ingin maju tukasnya, maka perencanaan usaha itu harus duimulai dari desa dan berakar dari masyarakat. Pemerintah hanya sifatnya memfasilitasi usaha masyarakat. Kadang program itu drop-dropan dan tidak direncanakan dari bawah maka sering gagal. Ketika uangnya datang masyarakat di desa bingung apa yang harus dibuat.

Dalam konteks Malaka, usaha agribisnis sudah harus dilakukan dan ditata sejak dini. Produksi jalan dan pengenalan produknya juga harus jalan sehingga ada keseimbangan dan dikenal masyarakat luas.

Dalam konsep itu, home industri harus berakar di desa dan produknya harus dikenalkan ke pasar. Kenyataan yang dihadapi saat ini orang dan masyarakat enggan berusaha dibidang pertanian, peternakan dan perikanan karena pemasarannya tidak jalan. Untuk itu sistem pasar harus ditata mulai sekarang. Rantai pemasaran dari hulu ke hilir harus ditangani secara baik dan tuntas sehingga usaha yang sementara digeluti masyarakat tetap eksis dan berkesinambungan.

Baca Juga :   Lokalisasi KD Resmi Ditutup Pemkot Kupang

“Pemerintah Kabupaten, dinas teknis terkait, PPL, Kepala desa dan masyarakat harus bekerja sama dan bersinergy. Itu satu kata kunci guna percepatan keberhasilan usaha masyarakat,” tuntasnya. (boni)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top