EKONOMI

Puluhan Pekerja PT. Tribina Bersaudara Mengadu ke Disnakertrans Belu

ATAMBUA, Kilastimor.com-Kurang lebih belasan tenaga buruh pada proyek pembangunan rumah instalasi sederhana (Risah) yang terdapat di Desa Fatuketi, Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak dan Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur mengadu ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Kabupaten Belu.

Karyawan PT. Trinida mengadu di Nakertrans Belu.

Karyawan PT. Tribina mengadu di Nakertrans Belu.

Pantauan media, Kamis (16/2/2017) pagi, para pekerja yang terdiri dari tiga kelompok yakni kelompok buruh bangunan dan jasa instalasi listrik diterima oleh Kabid Industrial Persyaratan dan Pengawasan Tenaga Kerja (HIPPTK) Disnakertrans, B.L Uran Yohanes di ruangan kerjanya yang juga turut hadir perwakilan PT Tribina Bersaudara, Burhan Kadir guna melakukan klarifikasi.

Maksud dan tujuan para pekerja tersebut untuk menuntut pembayaran upah kerja yang harus dibayar PT Tribina Bersaudara selaku pelaksana proyek pembangunan tersebut. Pasalnya pembangunan rumah telah selesai dilaksanakan, namum upah pekerja belum terealisasi atau dibayar.

Warsito, salah satu pemborong pekerjaan risah di Fatuketi usai rapat klarifikasi kepada awak media mengatakan, kedatangan dirinya bersama para pekerja ke Kantor Tenaga Kerja ini untuk menuntut upah kerja setelah menyelesaikan beberapa jenis pekerjaan. Adapaun item itu diantaranya, pemasangan fondasi dengan upah yang harus dibayar sebesar Rp 38 juta, pemasangan risah sebesar Rp 12 juta, pemasangan batako sebesar Rp 9 juta, pemasangan baja ringan sebesar Rp 5 juta dan plafon sebesar Rp 4 juta.

Baca Juga :   Jajaran BKKBN NTT Kenakan Kain Tenun di Kantor

“Kita sudah satu tahun kerja tapi belum ada pembayaran upah kurang lebih 400 juta lebih untuk 21 pekerja. Dari 50 unit rumah di Fatuketi, kita kerjakan 11 rumah percetakan dengan berbagai item sesuai RAB yang ada. Karena itu hari ini kami datang ke Kantor Tenaga Kerja untuk minta dukungan memfasilitasi supaya perusahaan bisa melunasi hutang kami. Sesuai kesepakatan rapat tadi tanggal 22 mendatang ini perusahaan akan lunasi hutang,” ujar Warsito.

Burhan Kadir selaku penanggungjawab Pekerjaan Proyek Pembangunan Risa PT Tribina Bersaudara yang dikonfirmasi mengatakan, upah pekerja sudah dibayarkan kepada Yusuf selaku kontraktor yang merekrut para pekerja. Sesuai laporan usulan pembayaran upah terakhir di bulan Januari lalu yang diajukan untuk pembayaran upah kerja sebesar Rp 113 juta.

Upah tersebut, selanjutnya sudah dibayarkan kepada Yusuf selaku mandor proyek yang mana dipercayakan perusahaan untuk membayar upah para pekerja. Namum dalam pertemuan hari ini pihaknya baru mengetahui Yusuf belum menyerahkan setoran upah perusahaan kepada para beberapa pekerja yang jumlah mencapai senilai Rp 400 juta.

“Kami baru tahu masalah ini, padahal setiap pengajuan Pak Yusuf sudah kita kita serahkan. Sebenarnya perusahaan tidak tahu, karena urusan dengan Yusuf selaku pengantara sudah selesai,” tutur dia.

Namun demikian, jelas Burhan perusahaan tidak lepas tangan dan akan terus berupaya untuk memfasilitasi penyelesaian masalah upah para pekerja dengan menghadirkan Yusuf sehingga masalah bisa selesai. “intinya kami akan selesaikan dan tidak akan lepas tangan karena in ikerjassam dengan Kementerian PU,” ucap dia.

Baca Juga :   Pejabat Malaka Harus Profesional dan Jangan Kerdil dalam Berpikir

Kabid HIPPTK Disnakertranas, Uran Yohanes Uran menyampaikan, kedatangan para pekerja terkait dengan upah yang belum selesai dibayarkan PT Tribina. Dinas hanya sebatas memfasilitasi penyelesaian masalah upah pekerja dengan pelaksana proyek. Sesuai hasil kesepakatan bersama, permasalahan ini akan diselesaikan pada 22 Februari mendatang dengan menghadirkan Yusuf sebagai salah satu pihak yang bertanggungjawab atas permasalahan tersebut.

Sementara Manuel salah satu jasa instalasi listrik di risah yang terdapat di Desa Dualaus dan Silawan mengatakan, 47 unit rumah di Dualaus dan 100 unit rumah di Silawan telah selesai pemasangan instalasi listrik namun sampai saat ini belum dibayar sisa upah jasa borongan instalasi listrik oleh perusahaan Tribina. Sesuai kesepakatan setiap rumah yang diinstalasi listrik dibayar senilai Rp 300 ribu.

“Kita sudah selesai instalasi semua rumah dan total biaya yang harus dibayar perusahaan Rp 38.220.000. Tapi yang baru direalisasi perusahaan untuk jasa instalasi kurang lebih Rp 17.800.000, sementara yang belum dibayar sampai hari ini Rp 20.420.000. karena itu kami menuntut agar perusahaan segera lunasi hutang kami, karena semua rumah sudah instalasi listriknya,” pinta dia.

Untuk diketahui, proyek pekerjaan pembangunan Risa menelan anggaran Rp 47 milyar dengan anggaran yang bersumber daru APBN Tahun 2016. Proyek risah tersebut terdapat di tiga lokasi berbeda, yakni Desa Dualaus sebanyak 135 unit rumah, Fatuketi sebanyak 50 unit rumah wilayah Kecamatan Kakuluk Mesak dan 100 unit rumah di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu wilayah perbatasan antara Negara Indonesia dan Timor Leste. (yan)

Baca Juga :   Gaet Bulog, Koramil 1605/01 Kota adakan Pasar Murah
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top