EKONOMI

BI Sosialisasi Pengenalan Keaslian Uang Rupiah

BETUN, Kilastimor.com-Bank Indonesia (BI) menggelar seminar mata uang rupiah dengan tema Pengenalan Keaslian Uang Rupiah dan Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI. Seminar yang bertujuan untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya menggunakan mata uang rupiah ini diadakan
di Hotel Ramayana Betun, kevamatan Malaka Tengah pada, Rabu (8/3).

Sosialisasi Uang Rupiah

Sosialisasi Uang Rupiah

Seminar ini menghadirkan Kepala BI Perwakilan Provinsi NTT, Naek Tigor Sinaga sebagai pembicara. Selain itu, hadir pula Anggota DPR RI Komisi XI Ferry KASE sebagai pembicara.

Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Naek Tigor Sinaga mengingatkan kepada masyarakat NTT agar tidak menolak transaksi jual-beli dengan menggunakan uang logam. Pasalnya, jika ada menolak uang logam anda telah melanggar UU No 7 tahun 2011 tentang mata uang RI, peraturan BI No 17/3/PBI/2015 dan surat edaran No17/11/DKSP tentang kewajiban penggunaan rupiah di wilayah NKRI. Ancaman dari pasal ini adalah 1 tahun penjara dan denda 200 juta rupiah.

“Jadi saya ingatkatkan kepada seluruh masyarakat NTT untuk tidak menolak uang logam”. Demikian tegas Tigor Sinaga.

Untuk diketahui, acara sosialisasi penengalan mata uang NKRI diselenggarakan oleh Activity Youth Center (AYC) dengan menggandeng Bank Indonesia perwakilan NTT dan anggota DPR RI Komisi XI RI, Ferry Kase. Sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan uang NKRI terbaru dan menjelaskan dasar hukum penggunaan uang NKRI di wilayah republik Indonesia.

Baca Juga :   Sidang Telat, Mateus Bere Bau Kritisi Pimpinan DPRD dan Penjabat Bupati

Anggota DPR RI, Ferry Kase menuturkan bahwa penggunaan uang NKRI merupakan wujud dari kedaulatan Negara Indonesia. Oleh sebab itu, transaksi jual beli di wilayah RI yang tidak menggunakan uang NKRI bisa dikenakan sangsi hukum.

“Saya ingatkan kepada masyarakat di wilayah perbatasan untuk tetap menggunakan uang NKRI ketika melakukan transaksi jual beli. Jangan sekali-kali menggunakan uang dolar di wilayah NKRI untuk melakukan transaksi jual beli karena bisa dipidana,” tegas Ferry.

Kapolsek Malaka Tengah, AKP Mateus Cono, SH yang hadir dalam kesempatan tersembut mengungkapkan sebuah fenoma miris yang terjadi di Oekusi, RDTL. Dimana mata uang rupiah tidak bisa dipergunakan sehingga ada yang membuangnya. Oleh sebab itu, dirinya meminta BI bisa memangun tempat penukaran uang di Oekusi.

“Saya memiliki keluarga di Oekusi. Saat saya berlibur ke sana saya lihat sendiri jika ada masyarakat yang membuat uang rupiah karena tidak bisa digunakan,” ungkap Cono.

Menanggapi nyataan Cono, Tigor Sinaga menghimbau agar masyarakat yang hendak ke RDTL agar menukarkan uang rupiahnya. Sedangkan kasus penolakkan penggunaan uang rupiah dalam transaksi jual beli di RDTL, dikatakan Naek memang hal itu tidak diwajibkan di negara luar.

“Kalau di RDTL memang tidak bisa diwajibkan menggunakan uang NKRI,” ungkap Tigor Sinaga (richi anyan)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top